<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<rss version="2.0" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" >
   <channel>
    <atom:link href="http://aswaja.webnode.com/rss/news-.xml" rel="self" type="application/rss+xml" />
      <title><![CDATA[News - ]]></title>
      <link>http://aswaja.webnode.com</link>
      <language>en</language>
      <pubDate>Tue, 14 Feb 2012 14:17:00 +0100</pubDate>
      <lastBuildDate>Tue, 14 Feb 2012 14:17:00 +0100</lastBuildDate>
      <category><![CDATA[News]]></category>
      <docs>http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss</docs>
      <generator>Rubicus v2.0</generator>
      <managingEditor><![CDATA[muubassir@gmail.com (mubas mubas)]]></managingEditor>
      <webMaster><![CDATA[muubassir@gmail.com (mubas mubas)]]></webMaster>
      <item>
         <title><![CDATA[Hukum Menambah SAYYIDINA ]]></title>
         <link>http://aswaja.webnode.com/news/hukum-menambah-sayyidina-/</link>
         <description><![CDATA[
	&nbsp;

	
		
	
		
		
		
		
		
		Menambah kata “Sayyid” sebelum menyebut nama Nabi Muhammad adalah perkara yang dibolehkan di dalam syari’at. Karena pada kenyataannya Rasulullah adalah seorang Sayyid, bahkan beliau adalah Sayyid al-‘Alamin, penghulu dan pimpinan seluruh makhluk. Salah seorang ulama bahasa terkemuka, ar-Raghib al-Ashbahani dalam kitab Mufradat Alfazh al-Qur’an, menuliskan bahwa di antara makna “Sayyid” adalah seorang pemimpin, seorang yang membawahi perkumpulan satu kaum yang...]]></description>
         <pubDate>Tue, 14 Feb 2012 14:17:00 +0100</pubDate>
         <guid isPermaLink="true">http://aswaja.webnode.com/news/hukum-menambah-sayyidina-/</guid>
         <category>News</category>
         <content:encoded><![CDATA[<div class="post-header">
	&nbsp;</div>
<div class="post-body entry-content" id="post-body-6534082914968420886">
	<div class="separator" style="clear: both; text-align: center;">
		<a href="http://3.bp.blogspot.com/-RdWjTKK1x10/Ty5wOpOMl-I/AAAAAAAAAAU/yAFeQelcU1Y/s1600/SAYYIDINA-DALAM-SHOLAT.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"><img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/-RdWjTKK1x10/Ty5wOpOMl-I/AAAAAAAAAAU/yAFeQelcU1Y/s1600/SAYYIDINA-DALAM-SHOLAT.jpg" /></a></div>
	<p>
		<br />
		<br />
		<br />
		<br />
		<br />
		Menambah kata “Sayyid” sebelum menyebut nama Nabi Muhammad adalah perkara yang dibolehkan di dalam syari’at. Karena pada kenyataannya Rasulullah adalah seorang Sayyid, bahkan beliau adalah Sayyid al-‘Alamin, penghulu dan pimpinan seluruh makhluk. Salah seorang ulama bahasa terkemuka, ar-Raghib al-Ashbahani dalam kitab Mufradat Alfazh al-Qur’an, menuliskan bahwa di antara makna “Sayyid” adalah seorang pemimpin, seorang yang membawahi perkumpulan satu kaum yang dihormati dan dimuliakan (Mu’jam Mufradat Alfazh al-Qur’an, h. 254).<br />
		<br />
		Dalam al-Qur’an, Allah menyebut Nabi Yahya dengan kata “Sayyid” :<br />
		وَسَيِّدًا وَحَصُورًا وَنَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ (ءال عمران : 39)<br />
		<br />
		“… menjadi pemimpin dan ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang nabi termasuk keturunan orang-orang saleh”. (QS. Ali ‘Imran : 39).<br />
		<br />
		Nabi Muhammad jauh lebih mulia dari pada Nabi Yahya, karena beliau adalah pimpinan seluruh para nabi dan rasul. Dengan demikian mengatakan “Sayyid” bagi Nabi Muhammad tidak hanya boleh, tapi sudah selayaknya, karena beliau lebih berhak untuk itu. Bahkan dalam sebuah hadits, Rasulullah sendiri menyebutkan bahwa dirinya adalah seorang “Sayyid”. Beliau bersabda :<br />
		أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ ءَادَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ فَخْرَ -(رواه الترمذي<br />
		<br />
		“Saya adalah penghulu manusia di hari kiamat”. (HR. at-Tirmidzi)<br />
		<br />
		Dengan demikian di dalam membaca shalawat boleh bagi kita mengucapkan “Allahumma Shalli ‘Ala Sayyidina Muhammad”, meskipun tidak ada pada lafazh-lafazh shalawat yang diajarkan oleh Nabi (ash-Shalawat al Ma’tsurah) dengan penambahan kata “Sayyid”. Karena menyusun dzikir tertentu yang tidak ma’tsur boleh selama tidak bertentangan dengan yang ma’tsur.<br />
		<br />
		Sahabat ‘Umar ibn al-Khaththab dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim menambah lafazh talbiyah dari yang sudah diajarkan oleh Rasulullah. Lafazh talbiyah yang diajarkan oleh Nabi adalah:<br />
		لَبَّيْكَ اللّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لاَ شَرِيْكَ لَكَ<br />
		<br />
		Namun kemudian sabahat Umar ibn al-Khaththab menambahkannya. Dalam bacaan beliau :<br />
		لَبَّيْكَ اللّهُمَّ لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ ، وَالْخَيْرُ فِيْ يَدَيْكَ، وَالرَّغْبَاءُ إِلَيْكَ وَالْعَمَلُ<br />
		<br />
		Dalil lainnya adalah dari sahabat ‘Abdullah ibn ‘Umar bahwa beliau membuat kalimat tambahan pada Tasyahhud di dalamnya shalatnya. Kalimat Tasyahhud dalam shalat yang diajarkan Rasulullah adalah “Asyhadu An La Ilaha Illah, Wa Asyhadu Anna Muhammad Rasulullah”. Namun kemudian ‘Abdullah ibn ‘Umar menambahkan Tasyahhud pertamanya menjadi:<br />
		أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ<br />
		<br />
		Tambahan kalimat “Wahdahu La Syarika Lah” sengaja diucapkan oleh beliau. Bahkan tentang ini ‘Abdullah ibn ‘Umar berkata: “Wa Ana Zidtuha…”. Artinya: “Saya sendiri yang menambahkan kalimat “Wahdahu La Syarika Lah”. (HR Abu Dawud)<br />
		<br />
		Dalam sebuah hadits shahih, Imam al-Bukhari meriwayatkan dari sahabat Rifa’ah ibn Rafi’, bahwa ia (Rifa’ah ibn Rafi’) berkata : “Suatu hari kami shalat berjama’ah di belakang Rasulullah. Ketika beliau mengangkat kepala setelah ruku’ beliau membaca: “Sami’allahu Liman Hamidah”, tiba-tiba salah seorang makmum berkata :<br />
		رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ<br />
		<br />
		Setelah selesai shalat Rasulullah bertanya : “Siapakah tadi yang mengatakan kalimat-kalimat itu?”. Orang yang yang dimaksud menjawab : “Saya Wahai Rasulullah…”. Lalu Rasulullah berkata:<br />
		رَأَيْتُ بِضْعَةً وَثَلاَثِيْنَ مَلَكًا يَبْتَدِرُوْنَهَا أَيُّهُمْ يَكْتُبُهَا أَوَّلَ<br />
		<br />
		“Aku melihat lebih dari tiga puluh Malaikat berlomba untuk menjadi yang pertama mencatatnya”.<br />
		<br />
		Al-Imam al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam kitab Fath al-Bari, dalam menjelaskan hadits sahabat Rifa’ah ibn Rafi ini menuliskan sebagai berikut : “Hadits ini adalah dalil yang menunjukkan kepada beberapa perkara.<br />
		<br />
		Pertama : Menunjukan kebolehan menyusun dzikir yang tidak ma’tsur di dalam shalat selama tidak menyalahi yang ma’tsur. Dua : Boleh mengeraskan suara dzikir selama tidak mengganggu orang lain di dekatnya. Tiga : Bahwa orang yang bersin di dalam shalat diperbolehkan baginya mengucapkan “al-Hamdulillah” tanpa adanya hukum makruh” (Fath al-Bari, j. 2, h. 287).<br />
		<br />
		Dengan demikian boleh hukumnya dan tidak ada masalah sama sekali di dalam bacaan shalawat menambahkan kata “Sayyidina”, baik dibaca di luar shalat maupun di dalam shalat. Karena tambahan kata “Sayyidina” ini adalah tambahan yang sesuai dengan dasar syari’at, dan sama sekali tidak bertentangan dengannya.<br />
		<br />
		Asy-Syaikh al’Allamah Ibn Hajar al-Haitami dalam kitab al-Minhaj al-Qawim, halaman 160, menuliskan sebagai berikut:<br />
		وَلاَ بَأْسَ بِزِيَادَةِ سَيِّدِنَا قَبْلَ مُحَمَّدٍ، وَخَبَرُ”لاَ تُسَيِّدُوْنِي فِيْ الصَّلاَةِ” ضَعِيْفٌ بَلْ لاَ أَصْلَ لَهُ<br />
		<br />
		“Dan tidak mengapa menambahkan kata “Sayyidina” sebelum Muhammad. Sedangkan hadits yang berbunyi “La Tusyyiduni Fi ash-Shalat” adalah hadits dla’if bahkan tidak memiliki dasar (hadits maudlu/palsu)”.<br />
		<br />
		Di antara hal yang menunjukan bahwa hadits “La Tusayyiduni Fi ash-Shalat” sebagai hadits palsu (Maudlu’) adalah karena di dalam hadits ini terdapat kaedah kebahasaan yang salah (al-Lahn). Artinya, terdapat kalimat yang ditinjau dari gramatika bahasa Arab adalah sesuatu yang aneh dan asing. Yaitu pada kata “Tusayyiduni”. Di dalam bahasa Arab, dasar kata “Sayyid” adalah berasal dari kata “Saada, Yasuudu”, bukan “Saada, Yasiidu”.<br />
		<br />
		Dengan demikian bentuk fi’il Muta’addi (kata kerja yang membutuhkan kepada objek) dari “Saada, Yasuudu” ini adalah “Sawwada, Yusawwidu”, dan bukan “Sayyada, Yusayyidu”. Dengan demikian, -seandainya hadits di atas benar adanya-, maka bukan dengan kata “La Tasayyiduni”, tapi harus dengan kata “La Tusawwiduni”. Inilah yang dimaksud dengan al-Lahn. Sudah barang tentu Rasulullah tidak akan pernah mengucapkan al-Lahn semacam ini, karena beliau adalah seorang Arab yang sangat fasih (Afshah al-‘Arab).<br />
		<br />
		Bahkan dalam pendapat sebagian ulama, mengucapkan kata “Sayyidina” di depan nama Rasulullah, baik di dalam shalat maupun di luar shalat lebih utama dari pada tidak memakainya. Karena tambahan kata tersebut termasuk penghormatan dan adab terhadap Rasulullah. Dan pendapat ini dinilai sebagai pendapat mu’tamad.<br />
		<br />
		Asy-Syaikh al-‘Allamah al-Bajuri dalam kitab Hasyiah al-Bajuri, menuliskan sebagai berikut:<br />
		الأوْلَى ذِكْرُ السِّيَادَةِ لأَنّ الأفْضَلَ سُلُوْكُ الأدَبِ، خِلاَفًا لِمَنْ قَالَ الأوْلَى تَرْكُ السّيَادَةِ إقْتِصَارًا عَلَى الوَارِدِ، وَالمُعْتَمَدُ الأوَّلُ، وَحَدِيْثُ لاَ تُسَوِّدُوْنِي فِي صَلاتِكُمْ بِالوَاوِ لاَ بِاليَاءِ بَاطِلٌ<br />
		<br />
		“Yang lebih utama adalah mengucapkan kata “Sayyid”, karena yang lebih afdlal adalah menjalankan adab. Hal ini berbeda dengan pendapat orang yang mengatakan bahwa lebih utama meninggalkan kata “Sayyid” dengan alasan mencukupkan di atas yang warid saja. Dan pendapat mu’tamad adalah pendapat yang pertama. Adapun hadits “La Tusawwiduni Fi Shalatikum”, yang seharusnya dengan “waw” (Tusawwiduni) bukan dengan “ya” (Tusayyiduni) adalah hadits yang batil” (Hasyiah al-Bajuri, j. 1, h. 156). *** (Catatan Aqidah Ahlussunnah / Nahdhiyin-Online)</p>
	<p>
		&nbsp;</p>
</div>
<div class="post-footer">
	<div class="post-footer-line post-footer-line-1">
		<span class="post-author vcard">Diposkan oleh <a href="http://aswajamadura.blogspot.com/2012/02/hukum-menambah-sayyidina.html" target="_blank"><span class="fn">AswajaMadura</span></a> </span></div>
</div>
<p>
	&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
      </item>
      <item>
         <title><![CDATA[Dialog Terbuka di Balikpapan, Wahabi Mati Kutu Tak Berkutik]]></title>
         <link>http://aswaja.webnode.com/news/dialog-terbuka-di-balikpapan-wahabi-mati-kutu-tak-berkutik/</link>
         <description><![CDATA[
	

	Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulam (PCNU) Kota Balikpapan, Sabtu (17/12/2011) melantik pengurus ranting NU se-Kota Balikpapan, bertempat di Auditorium PT. Kilang Mandiri. Sehingga saat ini PCNU Balikpapan memiliki 5 MWC dan 27 Ranting.

	&nbsp;

	Pelantikan yang dikemas dengan seminar tentang internalisasi Ahlussunnah Wal Jama’ah itu diikuti oleh 300 orang pengurus NU se-Balikpapan, mulai dari tingkat cabang hingga tingkat ranting.

	&nbsp;

	Pada kesempatan itu, hadir sebagai pembicara Ustadz...]]></description>
         <pubDate>Mon, 16 Jan 2012 13:27:00 +0100</pubDate>
         <guid isPermaLink="true">http://aswaja.webnode.com/news/dialog-terbuka-di-balikpapan-wahabi-mati-kutu-tak-berkutik/</guid>
         <category>News</category>
         <content:encoded><![CDATA[<p>
	<img alt="dialog terbuka" class="alignleft post_thumbnail wp-post-image" height="196" src="http://www.sarkub.com/wp-content/uploads/2012/01/dialog-terbuka-300x196.jpg" title="dialog terbuka" width="300" /></p>
<p>
	Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulam (PCNU) Kota Balikpapan, Sabtu (17/12/2011) melantik pengurus ranting NU se-Kota Balikpapan, bertempat di Auditorium PT. Kilang Mandiri. Sehingga saat ini PCNU Balikpapan memiliki 5 MWC dan 27 Ranting.</p>
<p>
	&nbsp;</p>
<p>
	Pelantikan yang dikemas dengan seminar tentang internalisasi Ahlussunnah Wal Jama’ah itu diikuti oleh 300 orang pengurus NU se-Balikpapan, mulai dari tingkat cabang hingga tingkat ranting.</p>
<p>
	&nbsp;</p>
<p>
	Pada kesempatan itu, hadir sebagai pembicara Ustadz Muhammad Idrus Ramli, salah satu anggota Tim Kaderisasi ASWAJA PWNU Jawa Timur. Dalam seminar tersebut, Ustadz Idrus Ramli memaparkan tentang makna dan hakikat Ahlussunnah Wal Jama’ah berdasarkan al-Qur’an, hadits dan pemahaman para ulama yang mu’tabar.</p>
<p>
	&nbsp;</p>
<p>
	Kegiatan ini sebagai salah satu langkah untuk membendung gerakan Wahabisasi yang semakin marak di Kota Balikpapan. Selama ini Balikpapan pusat gerakan aliran Wahabi. Dengan demikian, dibawah kepemimpinan KH. Abbas Alfas, PCNU Kota Balikpapan melakukan langkah-langkah strategis. Terutama penataan organisasi yang selama ini vakum.</p>
<p>
	&nbsp;</p>
<p>
	Untuk memberikan pemantapan terhadap warga Nahdliyyin di Balikpapan, PCNU juga menggelar dialog terbuka antara Ustadz Muhammad Idrus Ramli dengan Ustadz Adzro’I Abdusysyukur seorang tokoh Wahabi. Dialog yang dikemas dalam acara bedah buku “Kiai NU atau Wahabi Yang Sesat Tanpa Sedar? Jawaban Terhadap Buku-Buku Mahrus Ali”, yang ditulis oleh Ustadz Muhammad Idrus Ramli bersama Habib Muhammad Syafiq Al-Idrus, itu digelar di Masjid Agung At-Taqwa, Balikpapan dengan diikuti oleh sekitar 1000 orang lebih.</p>
<p>
	&nbsp;</p>
<p>
	Selama ini Ustadz Adzro’i dalam ceramahnya di berbagai tempat dan melalui radio tidak pernah berhenti membid’ahkan dan mensyirikkan warga nahdliyyin yang melakukan istighatsah dan tawassul. Tak ayal, warga nahdliyyin Balikpapan sangat menunggu kehadirannya dalam acara dialog tersebut. Sehingga ketika Ustadz Adzro’i diketahui kehadirannya, suasana menjadi tegang. Para peserta menunggu apa yang akan dibicarakan oleh kedua pembicara berbeda aliran itu.</p>
<p>
	&nbsp;</p>
<p>
	Ustadz Idrus Ramli diberi waktu untuk mengawali dialog dengan memaparkan hakikat istighatsah dan tawassul beserta dalil-dalilnya dari hadits-hadits shahih dan amaliah para sahabat. Usai Ustadz Idrus, moderator memberi kesempatan dan meminta Ustadz Adzro’i untuk memberikan tanggapannya.</p>
<p>
	&nbsp;</p>
<p>
	Namun, jawaban Adzro’i ternyata tidak memuaskan. Ia justru mengaku tidak memusyrikkan orang yang melakukan istighatsah dan tawassul, karena dasarnya sangat kuat sebagaiman dipaparkan oleh Ustadz Idrus di awal. Jawaban tersebut membuat para peserta yang hadir tertawa dan bersorak sorai, karena selama ini memang warga Balikpapan sering mendengar sendiri pernyataan Adzro’i yang memusyrikkan istighatsah. Tetapi dalam dialog tersebut, Adzro’i justru tidak mengakuinya.</p>
<p>
	&nbsp;</p>
<p>
	Kemudian moderator meminta tanggapan Adzro’i tentang ziarah umat islam ke makam para auliya’, apakah syirik atau tidak. Ternyata Adzro’i menjawab secara diplomatis, bahwa ziarah kubur dapat mengingatkan kita pada kematian, sehingga dibolehkan. Akhirnya Ustadz Idrus Ramli memaparkan ziarah kubur dalam berbagai aspeknya beserta dalil-dalilnya. Setelah Ustadz Idrus memaparkan hal ini secara detail beserta dalil-dalilnya, Ustadz Adzro’i segera meninggalkan acara dan berpamitan tidak bisa melanjutkan dialog dengan alasan ada acara lain di luar.</p>
<p>
	&nbsp;</p>
<p>
	Melihat ulah Ustadz Adzro’i yang kabur melarikan diri setelah dirinya tidak berkutik itu, para hadirin semuanya tertawa. Selanjutnya acara dialog dilanjutkan tanpa kehadiran pembanding dari pihak Wahabi hingga selesai pukul 13.00.</p>
<p>
	&nbsp;</p>
<p>
	(Disadur dari Majalah AULA Edisi Januari 2012, Dapatkan Majalahnya di toko / kios buku dan agen Majalah terdekat di kota Anda)</p>
<p>
	&nbsp;</p>
<p>
	sumber : sarkub.com</p>
]]></content:encoded>
      </item>
      <item>
         <title><![CDATA[Membongkar kedustaan Salafi Wahhabi atas nama imam Syafi'i 3]]></title>
         <link>http://aswaja.webnode.com/news/membongkar-kedustaan-salafi-wahhabi-atas-nama-imam-syafii-3/</link>
         <description><![CDATA[
	Mereka mencela ajaran tasawwuf dan penganutnya disebabkan :

	&nbsp;

	1. Kesalah pahaman di dalam memandang ajaran tasawwuf. Mereka mengira ajaran tasawwuf itu sesat karena melihat oknum-oknum yang merusak tasawwuf dan menyebarkan kerusakan yang ada padanya. Lalu mereka memukul rata di dalam memvonis sesat ajaran tasawwuf.

	&nbsp;

	2. Taqlid buta pada orang-orang yang memvonis sesat ajaran tasawwuf dengan membuka mata lebar-lebar untuk menerima informasi buruk tentang tasawwuf tanpa mau...]]></description>
         <pubDate>Thu, 12 Jan 2012 21:41:00 +0100</pubDate>
         <guid isPermaLink="true">http://aswaja.webnode.com/news/membongkar-kedustaan-salafi-wahhabi-atas-nama-imam-syafii-3/</guid>
         <category>News</category>
         <content:encoded><![CDATA[<div>
	Mereka mencela ajaran tasawwuf dan penganutnya disebabkan :</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	1. Kesalah pahaman di dalam memandang ajaran tasawwuf. Mereka mengira ajaran tasawwuf itu sesat karena melihat oknum-oknum yang merusak tasawwuf dan menyebarkan kerusakan yang ada padanya. Lalu mereka memukul rata di dalam memvonis sesat ajaran tasawwuf.</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	2. Taqlid buta pada orang-orang yang memvonis sesat ajaran tasawwuf dengan membuka mata lebar-lebar untuk menerima informasi buruk tentang tasawwuf tanpa mau sedikitpun meneliti dan mengkaji sumber ajaran tasawwuf yang sebenarnya.</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	Tasawwuf menurut jumhurul ulama adalah “ Konsep di dalam menjalankan rukun agama Islam yang ke-tiga yaitu Rukun Ihsan. Upaya beribadah kepada Allah dengan memfokuskan hati untuk selalu mengingat-Nya. Seolah kita beribadah melihat Allah dan jika belum mampu maka menanamkan dalam hati bahwa Allah selalu melihat kita. Metode di dalam menggapai Ihsan adalah membersihkan hati dan anggota tubuh kita dari semua akhlak yang tercela dan berusaha mengisinya dengan semua akhlak yang terpuji “. Inilah ajaran Tasawwuf.</div>
<div>
	<br />
	&nbsp;</div>
<div>
	<strong>B. Manipulasi salafi wahhabi terhadap kalam imam Syafi’i dalam hal Tasawwuf</strong></div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	Beraninya mereka berdusta atas nama imam Syafi’i untuk mencela ajaran tasawwuf yang mereka anggap sesat. Hanya bermodalkan taqlid buta pada orang-orang yang mereka anggap paling benar dan bermodalkan ilmu yang pas-pasan.</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	Mereka mencela ajaran tasawwuf dengan mencomot kalam imam Syafi’I yang mereka anggap bahwa imam Syafi’I juga mencela ajaran tasawwuf dan para penganutnya, tanpa mau mempelajari makna yang sebenarnya.</div>
<div>
	Mereka membawakan kalam imam Syafi’I tentang tasawwuf sebagai berikut :</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div dir="RTL">
	روى البيهقي في "مناقب الشافعي" &nbsp;عن يونس بن عبد الأعلى يقول: سمعت الشافعي يقول: لو أن رجلاً تصوَّف من أول النهار لم يأت عليه الظهر إلا وجدته أحمق<span dir="LTR">.</span></div>
<div>
	Al-Imam Al-Baihaqi rahimahullahu meriwayatkan di dalam kitabnya Manaqib asy-Syafi’I dari Yunus bin Abdul A’la, aku mendengar imam Syafi’I berkata: “Jika seorang belajar tasawuf di pagi hari, sebelum datang waktu dhuhur engkau akan dapati dia menjadi orang dungu.”</div>
<div dir="RTL">
	&nbsp;</div>
<div align="right" dir="RTL">
	<strong><span dir="LTR">Jawaban :</span></strong></div>
<div align="right" dir="RTL">
	&nbsp;</div>
<div>
	<strong>Pertama :</strong> Khobar tersebut di dalam sanadnya oleh para ulama masih diperselisihkan artinya tidak tsiqah. Dalam periwayatan lainnya menggunakan kalimat “Lau laa” (seandainya tidak).</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	Dalam kitab Hilyatul Aulia disebutkan sbgai berikut :</div>
<div dir="RTL">
	<br />
	&nbsp;حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ ، حدَّثَنِي أَبُو الْحَسَنِ بْنُ الْقَتَّاتِ ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي يَحْيَى ، ثنا يُونُسُ بْنُ عَبْدِ الأَعْلَى ، قَالَ : سَمِعْتُ الشَّافِعِيَّ ، يَقُولُ : " لَوْلا أَنَّ رَجُلا عَاقِلا تَصَوَّفَ ، لَمْ يَأْتِ الظُّهْرَ حَتَّى يَصِيرَ أَحْمَقَ<span dir="LTR"> " </span></div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	“ Seandainya orang yang berakal tidak bertasawwuf, maka belum sampai dhuhur,&nbsp; ia akan menjadi dungu “</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	Sanad periwayatan ini muttasil dari pengarang kitab Hiltyatul Aulia hingga sampai pada imam Syafi'i dan lebih kuat karena menggunakan shighah tahdits / sama’ (lambang periwayatan yang didengarkan secara langsung secara estafet).</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	<strong>Kedua ;</strong> Mereka menukil ucapan imam Syafi’I tersebut dengan bodoh terhadap makna yang sebenarnya. Benarkah itu sebuah celaan terhadap ajaran tasawwuf ??</div>
<div align="right" dir="RTL">
	<span dir="LTR">Makna yang sesungguhnya adalah :</span></div>
<div align="right" dir="RTL">
	&nbsp;</div>
<div align="right" dir="RTL">
	<span dir="LTR">&nbsp;<strong>“ Tidaklah seseorang belajar tasawwuf tanpa didahului ilmu fiqih, maka tidaklah datang waktu dhuhur maksudnya waktu sholat, kecuali dia dalam keadaan dungu yakni dalam keadaan bodoh, dia tidak mengerti bagaimana&nbsp;</strong></span></div>
<div align="right" dir="RTL">
	<span dir="LTR"><strong>beribadah dengan Tuhannya “.</strong></span></div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	Makna seperti ini sesuai dengan kalam para ulama lainnya seperti imam Sirri As-Saqothi yang berkata kepada imam Junaid dan disebutkan oleh al-Hafidz Abu Thalib Al-Makki dalam kitabnya Qutul Qulub sebagai berikut :</div>
<div>
	“ Imam Sirri as-Saqothi berkata pada imam Junaid “ Jika kau berpisah dariku, siapakah yang kau duduk bersamanya ? Imam Junaid menjawab “ Al-Harist al-Muhasibi “. Imam Sirri berkata “ Benar, ambillah ilmu dan adabnya, dan tinggalkan kalam lembutnya “. Imam Junaid berkata “ Ketika aku hendak pergi aku mendengar beliau berkata :</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div align="center">
	<span dir="RTL">جعلك اللّه صاحب حديث صوفياً ولا جعلك صوفياً صاحب حديث</span></div>
<div align="center">
	&nbsp;</div>
<div>
	<em>“ Semoga Allah menjadikanmu ahli hadits yang bertasawwuf dan tidak menjadikanmu ahli tasawwuf yang pandai hadits “.</em></div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	<strong>Ketiga ; </strong>Mereka menukil ucapan imam Syafi’i tersebut dari imam Baihaqi dalam kitabnya Manaqib Asy-Syafi’i. Seandainya mereka mau jujur, maka mereka seharusnya juga menampilkan komentar imam Baihaqi terhadap kalam imam Syafi’i tersebut dan tidak membuangnya. Namun karena tujuan mereka untuk mengelabui umat dari makna yang sebenarnya, mereka tak lagi peduli pada kejujuran dan amanat. Fa laa haula wa laa quwwata illa billahi..</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	Berikut komentar beliau stelah menampilkan kalam imam Syafi'i tsb dalam kitab beliau Manaqib Asy-Syafi'i juz 2 halaman 207 :<br />
	<br />
	<span dir="RTL">قلت : وإنما أراد به من دخل في الصوفية واكتفى بالاسم عن المعنى، وبالرسم عن الحقيقة، وقعد عن الكسب، وألقى مؤنته على المسلمين، ولم يبال بهم، ولم يرع حقوقهم ولم يشتغل بعلم ولا عبادة، كما وصفهم في موضع آخر </span></div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	" Aku katakan (Imam Al Baihaqi menjelaskan maksud perkataan Imam As Syafi’i tersebut): ” Sesungguhnya yang imam Syafi'i maksud adalah orang yang masuk dalam shufi namun hanya cukup dengan nama bukan dengan makna (pengamalan), merasa cukup dengan simbol dan melupakan hakekat shufi, malas bekerja, membebankan nafkah pada kaum muslimin tapi tidak peduli dgn mereka, tidak menjaga haq-haq mereka, tidak menyibukkan diri dengan ilmu dan ibadah, sebagaimana beliau menyifai hal ini di tempat yang lainnya. "</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	(Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al Baihaqi, 2/207)</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	Inilah yang dimaksud oleh imam Syafi'i, maka jelas bahwa beliau tidak mencela ajaran tasawwuf dan penganutnya.</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	Dan cukup kalam imam Syafi’i berikut ini dalam bentuk bait syi’ir untuk membungkam hujjah mereka :</div>
<div align="right" dir="RTL">
	&nbsp;</div>
<div align="center" dir="RTL">
	فقيهاً وصوفياً فكن ليس واحدا فإنــي وحـق الله إيـاك أنصح</div>
<div align="center" dir="RTL">
	فذلك قاس لم يذق قلبه تقــى وهذا جهول كيف ذو الجهل يصلح</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	<strong>“ Jadilah kamu seorang ahli fiqih yang bertasawwuf jangan jadi salah satunya, sungguh dengan haq Allah aku menasehatimu.</strong></div>
<div>
	&nbsp;</div>
<p>
	<strong>Jika kamu menjadi ahli fiqih saja, maka hatimu akan keras tak akan merasakan nikmatnya taqwa. Dan jka kamu menjadi yang kedua saja, maka sungguh dia orang teramat bodoh, maka orang bodoh tak akan menjadi baik “.</strong></p>
<p>
	&nbsp;</p>
<h1 style="text-align: center;">
	<strong>&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;</strong></h1>
<p>
	&nbsp;</p>
<p>
	&nbsp;</p>
<div>
	Lagi-lagi mereka berani berdusta atas nama imam Syafi’i dengan menukil ucapan beliau dan diselewengkan dari makna yang sebenarnya.</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	Sekali lagi mereka memandang ajaran tasawwuf hanya dengan sebelah mata dan menutup mata satunya dari fakta yang sebenarnya. Mereka menyangka tasawwuf sebuah ilmu tersendiri dan terpisah sehingga membentuk sebuah golongan yang disebut sufi. Sebuah tuduhan dan pemikiran dangkal yang bersumber dari kejahilan akan sendi-sendi agama Islam.</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	Kami akan membuat artikel tersendiri yang menjelaskan makna tasawwuf secara konkrit dan menampilkan pendapat para ulama besar tentang ajaran tasawwuf serta memaparkan kesalah pahaman para penentangnya di dalam memandang ilmu tasawwuf yang mulia ini. Insya Allah..</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	Yang inti dari makna tasawwuf menurut mayoritas ulama adalah : “ Konsep di dalam menjalankan rukun agama Islam yang ke-tiga yaitu Rukun Ihsan. Upaya beribadah kepada Allah dengan memfokuskan hati untuk selalu mengingat-Nya. Seolah kita beribadah melihat Allah dan jika belum mampu maka menanamkan dalam hati bahwa Allah selalu melihat kita. Metode di dalam menggapai Ihsan adalah membersihkan hati dan anggota tubuh kita dari semua akhlak yang tercela dan berusaha mengisinya dengan semua akhlak yang terpuji “. Inilah ajaran Tasawwuf.&nbsp;</div>
<br />
<br />
<br />
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	Kalam imam syafi’i selanjutnya yang dimanipulasi oleh para penentang tasawwuf adalah :</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div align="right">
	<span dir="RTL">حدثنا أبو محمد بن حيان ثنا أبو الحسن البغدادي ثنا ابن صاعد قال سمعت الشافعي يقول أسس التصوف على الكسل</span></div>
<div align="right">
	&nbsp;</div>
<div>
	“ Menceritakan pada kami Abu Muhammad bin Hayyan, Menceritakan pada kami Abul Hasan Al-Baghdadi, menceritakan pada kami Ibnu Sha’id, ia berkata “ Aku mendengar imam Syafi’i berkata “ Tasawwuf itu didasari dengan sifat malas “.</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	<strong>Jawaban :</strong></div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	<strong>Pertama :</strong> Ibn Sho'id yang disebutkan dalam sanad periwayatn atsar imam Syafi'i tsb tidak bisa menggunakan shighah jazm (sama', ihbar, tahdits), karena Ibnu Sho'id lahir tahun 228 H sdngkan imam Syafi'i wafat tahun 204 H. Bisa dicek dalam kitab Lisan Al-Mizan.</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	Maka dlm ilmu diroyah hal ini dikatakan maqthu', terputus dan gugur serta batal alias tdk bisa dibuat hujjah.</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	<strong>Kedua :</strong> Maksud kalam imam Syafi'i tsb telah disebutkan oleh imam Baihaqi sbgai berikut :</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div align="right">
	<span dir="RTL">قلت : وإنما أراد به من دخل في الصوفية واكتفى بالاسم عن المعنى، وبالرسم عن الحقيقة، وقعد عن الكسب، وألقى مؤنته على المسلمين، ولم يبال بهم، ولم يرع حقوقهم ولم يشتغل بعلم ولا عبادة، كما وصفهم في موضع آخر</span></div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	" Aku katakan (Imam Al Baihaqi menjelaskan maksud perkataan Imam As Syafi’i tersebut): ” Sesungguhnya yang imam Syafi'i maksud adalah orang yang masuk dalam shufi namun hanya cukup dengan nama bukan dengan makna (pengamalan), merasa cukup dengan simbol dan melupakan hakekat shufi, malas bekerja, membebankan nafkah pada kaum muslimin tapi tidak peduli dgn mereka, tidak menjaga haq-haq mereka, tidak menyibukkan diri dengan ilmu dan ibadah, sebagaimana beliau menyifai hal ini di tempat yang lainnya. "</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	(Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al Baihaqi, 2/207)</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	<strong>Ketiga :</strong> Atau yang dimaksud al-kasal (malas) oleh imam Syafi’i adalah at-Tafarrugh (kekosongan / waktu luang). Artinya “ Ajaran tasawwuf didasari dengan kekosongan hati dan anggota tubuh dari keduniaan “. Malas dari segala perkara yang dapat menyibukkan dia dari urusan akherat.</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	Dan ini sudah maklum merupakan tingkatan dasar ibadah, karena orang yang tidak focus untuk ibadah, maka dia tidak akan bias bersungguh-sungguh untuk ibadah. Dan jika dia mengosongkan hati dari segala urusan yang melailaikan akherat, maka pikirannya, hati dan anggota tubuhnya akan jernih untuk ibadah. &nbsp;&nbsp;</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	Maka dasar ajaran tasawwuf itu sifat malas adalah bermakna meninggalkan kesibukan-kesibukan yang dapat melalaikan akherat. Oleh karena itu pula seorang yang zuhud yaitu Syaqiqi al-Bulkhi berkata sebagaimana telah diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam kitab Hilyahnya :</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div align="right">
	<span dir="RTL">حدثنا أحمد بن إسحاق ثنا أبو بكر بن أبي عاصم قال سمعت أبا تراب يقول سمعت حاتما الأصم يقول سمعت شقيقا يقول الكسل عون على الزهد</span></div>
<div>
	“ Telah member kabar pada kami Ahmad bin Ishaq, telah member kabar pada kami Abu Bakar bin Abi ‘Ashim, beliau berkata “ Aku telah mendengar Abu Thurab berkata; aku telah mendengar Hatim al-‘Ashom berkata; aku telah mendengar Syaqiq berkata “ Sifat Malas adalah penolong bagi orang yang ahli zuhud “.</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	Hal ini telah dikuatkan oleh Hadits Qudsi yang telah dishahihkan oleh imam al-Hakim dan disepakati oleh imam Adz-Dzahabi. Dalam Hadits Qudsi tersebut Allah Swt berfirman :</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div align="right">
	<span dir="RTL">جل ابن آدم تفرغ لعبادتي املأ صدرك غنى و أسد فقرك، وإلا تفعل ملأت صدرك شغلا، و لم أسد فقرك</span></div>
<div align="right">
	&nbsp;</div>
<div>
	“ Wahai anak Adam, kosongkan diri untuk focus beribadah pada-Ku, maka aku akan penuhi hatimu dengan kekayaan dan menutup kefaqiranmu. Jika kamu tidak lakukan itu, maka aku akan penuhi hatimu dengan kesibukan dan aku tidak menutup kefaqiranmu “.</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	Bersambung...</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	(Ibnu Abdillah Al-Katibiy)</div>
]]></content:encoded>
      </item>
      <item>
         <title><![CDATA[Membongkar kedustaan Salafi Wahhabi atas nama imam Syafi'i 2]]></title>
         <link>http://aswaja.webnode.com/news/membongkar-kedustaan-salafi-wahhabi-atas-nama-imam-syafii-2/</link>
         <description><![CDATA[
	
	
		Berbagai cara dan strategi busuk mereka lakukan untuk menyerang ajaran yang dipegang teguh oleh mayoritas umat Muslim ini, umat yang selalu mengedepankan sikap damai, kasih sayang dan toleransi, umat muslim Ahlus sunnah waljama’ah.
	
		&nbsp;
	
		Mulai dari mencela para ulama salaf maupun ulama besar sesudahnya seolah mereka ingin menunjukkan bahwa para ulama kita dalam kesalahan, sesat atau pun kata busuk lainnya dengan hanya bermodal taqlid pada ulama mereka yang kapasitas keilmuannya...]]></description>
         <pubDate>Thu, 12 Jan 2012 21:38:00 +0100</pubDate>
         <guid isPermaLink="true">http://aswaja.webnode.com/news/membongkar-kedustaan-salafi-wahhabi-atas-nama-imam-syafii-2/</guid>
         <category>News</category>
         <content:encoded><![CDATA[<div id="post-body-8196275088464509252">
	<br />
	<div>
		<a href="http://2.bp.blogspot.com/-Ol8kXpGfSe8/TuRiuIaFvRI/AAAAAAAAAII/U0CfOHN82iw/s1600/17847.jpg" style="clear:left;"><img border="0" height="245" src="http://2.bp.blogspot.com/-Ol8kXpGfSe8/TuRiuIaFvRI/AAAAAAAAAII/U0CfOHN82iw/s320/17847.jpg" width="320" /></a>Berbagai cara dan strategi busuk mereka lakukan untuk menyerang ajaran yang dipegang teguh oleh mayoritas umat Muslim ini, umat yang selalu mengedepankan sikap damai, kasih sayang dan toleransi, umat muslim Ahlus sunnah waljama’ah.</div>
	<div>
		&nbsp;</div>
	<div>
		Mulai dari mencela para ulama salaf maupun ulama besar sesudahnya seolah mereka ingin menunjukkan bahwa para ulama kita dalam kesalahan, sesat atau pun kata busuk lainnya dengan hanya bermodal taqlid pada ulama mereka yang kapasitas keilmuannya sangat jauh dibandingkan para ulama yang mereka cela.</div>
	<div>
		&nbsp;</div>
	<div>
		Mereka juga suka mencomot ucapan para ulama Ahlus sunnah dan memaknai dengan pemahaman yang menurut mereka itulah maksud ucapan tersebut padahal jika mau diteliti dan dikaji, maka akan tampak nyata makna yang sebenarnya. Tidaklah mereka berbuat demikian kecuali karena dua hal :</div>
	<div>
		&nbsp;</div>
	<div>
		1. Sengaja memanipulasi ucapan para ulama Ahlus sunnah wal jama’ah untuk menipu dan membodohi umat dari makna yang sebenarnya demi mempromosikan doktrin mereka.</div>
	<div>
		2. Kejahilan dan kedangkalan di dalam memahami ajaran agama Islam ini disebabkan mereka memisahkan diri dari pemahaman jumhurul ulama.</div>
	<div>
		&nbsp;</div>
	<div align="right">
		<strong><span dir="RTL">ومن يشاقق الرسو ل من بعد ما تبين له الهدى ويتبع غير سبيل المؤمنين نوله ما تولى ونصله جهنم وسائت مصيرا</span></strong></div>
	<div align="right">
		&nbsp;</div>
	<div>
		“ Dan barangsiapa menentang Rasul Saw setelah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, kami biarkan dia dalam kesesatan yang telah dilakukannya itu dan Kami masukkan dia ke dalam neraka jahannam dan itu seburuk-buruk tempat kembali “ (QS. An-Nisa : 115)</div>
	<div>
		&nbsp;</div>
	<div>
		Di antara ucapan ulama Salaf yang sering mereka nukil adalah kalam Imam Syafi’i Rahimahullahu.</div>
	<div>
		&nbsp;</div>
	<ol>
		<li>
			<strong>Manipulasi Salafi terhadap kalam imam Syafi’i dalam hal Aqidah :</strong></li>
	</ol>
	<div>
		&nbsp;</div>
	<div>
		" <span dir="RTL">روى شيخ الإسلام أبو الحسن الهكاري ، والحافظ أبو محمد المقدسي بإسنادهم إلى أبي ثور وأبي شعيب كلاهما عن الإمام محمد بن إدريس الشافعي ناصر الحديث رحمه الله قال: القول في السنة التي أنا عليها ورأيت أصحابنا عليها أهل الحديث الذين رأيتهم وأخذت عنهم مثل سفيان ومالك وغيرهما الاقرار بالشهادة أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله ، وأن الله تعالى على عرشه في سمائه يقرب من خلقه كيف شاء وأن الله ينزل إلى السماء الدنيا كيف شاء</span> "</div>
	<div>
		&nbsp;</div>
	<div>
		“ Syaikhul Islam Abu Hasan Al-Hakary meriwayatkan dan Al-Hafidz Abu Muhammad Al-Muqoddasi dengan isnad mereka kepada Abu Tsaur dan Abu Syu’aib, keduanya dari imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’I, Nashirul hadits Rh, beliau berkata “ Pendapat di dalam sunnah yang aku pegang dan juga para sahabatku dari Ahli hadits yang telah aku saksikan dan aku ambil dari mereka seperti Sufyan, Malik dan selain keduanya adalah pengakuan dengan syahadah bahwa tiada Tuhan selain Allah Swt, Muhammad adalah utusan Allah dan sesungguhnya Allah Swt di atas Arsy-Nya di dalam langit-Nya yang mendekat kepada makhluk-Nya kapan saja DIA kehendaki, dan sesungguhnya Allah turun ke langit dunia kapan saja DIA kehendaki “.</div>
	<div>
		&nbsp;</div>
	<div>
		(Mukhtashor Al-‘uluw halaman : 176)</div>
	<div>
		&nbsp;</div>
	<div>
		<strong>Jawaban :</strong></div>
	<div>
		&nbsp;</div>
	<div>
		Dari sisi sanad :</div>
	<div>
		&nbsp;</div>
	<div>
		1. Al-Hafidz Adz-Dzahaby di dalam kitabnya MIZAN AL-I’TIDAL juz : 3 halaman : 112 berkata :</div>
	<div>
		&nbsp;</div>
	<div>
		<span dir="RTL">أبي الحسن الهكاري : أحد الكذابين الوضاعين</span></div>
	<div>
		&nbsp;</div>
	<div>
		“ Abu Al-Hasan Al-Hakkari adalah salah satu orang yang suka berdusta dan sering memalsukan ucapan “</div>
	<div>
		&nbsp;</div>
	<div>
		2. Abul Al-Qosim bin Asakir juga berkata :</div>
	<div>
		&nbsp;</div>
	<div>
		<span dir="RTL">قال أبو القاسم بن عساكر : لم يكن موثوقاً به</span></div>
	<div>
		&nbsp;</div>
	<div>
		“ Dia (Abu Al-Hasan) orang yang tidak dapat dipercaya “</div>
	<div>
		&nbsp;</div>
	<div>
		3. Ibnu Najjar berkata :</div>
	<div>
		&nbsp;</div>
	<div>
		<span dir="RTL">وقال ابن النجار : متهم بوضع الحديث وتركيب الأسانيد</span></div>
	<div>
		&nbsp;</div>
	<div>
		“ Dia dicurigai memalsukan hadits dan menyusun-nysun sanad “</div>
	<div>
		&nbsp;</div>
	<div>
		4. Al-Hafidz Ibnu Hajar di dalam kitab LISAN AL-MIZAN juz : 4 halaman : 159 berkata :</div>
	<div>
		&nbsp;</div>
	<div>
		<span dir="RTL">وكان الغالب على حديثه الغرائب والمنكرات ، وفي حديثه أشياء موضوعة</span></div>
	<div>
		&nbsp;</div>
	<div>
		“ Kebanyakan hadits yg diriwayatkannya adalah ghorib dan mungkar dan juga terdapat hadits-hadits palsunya “.</div>
	<div>
		&nbsp;</div>
	<div>
		5. Ibrahim bin Muhammad Ibn Sibth bin Al-Ajami di di dalam kitabnya Al-Kasyfu Al-Hatsits juz ; 1 halaman : 184 :</div>
	<div>
		&nbsp;</div>
	<div>
		<span dir="RTL">وهو كذاب وضاع</span></div>
	<div>
		&nbsp;</div>
	<div>
		“ Dia adalah seorag yang suaka berdusta dan suka memalsukan hadits “.</div>
	<div>
		&nbsp;</div>
	<div>
		Dari sisi tarikh / sejarah :</div>
	<div>
		&nbsp;</div>
	<div>
		Mereka (wahhaby salafy) mengaku atsar tersebut diriwayatkan oleh Abu Syu’aib dari imam Syafi’i. Benarkah ??</div>
	<div>
		&nbsp;</div>
	<div>
		Ini sebuah kedustaan yang nyata karena di dalam kitab-kitab tarikh / sejarah bahwasanya Abu Syu’aib ini dilahirkan dua tahun setelah wafatnya imam Syafi’i, sebagaimana disebutkan dalam kitab Tarikh Al-Baghdadi juz : 9 halaman : 436.</div>
	<div>
		&nbsp;</div>
	<div>
		Sekarang kita lihat bagaimanakah aqidah imam syafi’i yang sebenarnya tentang Istiwa Allah Swt ?</div>
	<div>
		&nbsp;</div>
	<div>
		Berikut ini ucapan-ucapan imam Syafi’i yang kami nukil dari kitab-kitab yang mu’tabar dan dari riwayat-riwayat yang tsiqoh :</div>
	<div>
		&nbsp;</div>
	<div>
		1. &nbsp;Ketika imam Syafi’I ditanya tentang makna ISTIWA dalam al-Quran beliau menjawab :</div>
	<div>
		&nbsp;</div>
	<div>
		“ <span dir="RTL">ءامنت بلا تشبيه وصدقت بلا تمثيل واتهمت نفسي في الإدراك وأمسكت عن الخوض فيه كل الإمساك</span>”</div>
	<div>
		<span dir="RTL">ذكره الإمام أحمد الرفاعي في ( البرهان المؤيد) (ص 24) والإمام تقي الدين الحصني في (دفع شبه من شبه وتمرد ) (ص 18) وغيرهما كثير</span>.</div>
	<div>
		&nbsp;</div>
	<div>
		“ Aku mengimani istiwa Allah tanpa memberi perumpamaan dan aku membenarkannya tanpa member permisalan, dan aku mengkhawatirkan nafsuku di dalam memahaminya dan aku mencegah diriku dari memperdalam persoalan ini dengan sebenar-benarnya pencegahan “</div>
	<div>
		&nbsp;</div>
	<div>
		Ini telah disebutkan oleh imam Ahmad Ar-Rifa’i di dalam kitab “ Al-Burhan Al-Muayyad “ (Bukti yang kuat) halaman ; 24.</div>
	<div>
		&nbsp;</div>
	<div>
		Juga telah disebutkan oleh imam Taqiyyuddin Al-Hishni di dalam kitab Daf’u syibhi man syabbaha wa tamarroda halaman : 18. Di dalam kitab ini juga pada halaman ke 56 disebutkan bahwa imam Syafi’I berkata :</div>
	<div>
		&nbsp;</div>
	<div>
		<span dir="RTL">ءامنت بما جاء عن الله على مراد الله وبما جاء عن رسول الله على مراد رسول الله</span></div>
	<div>
		&nbsp;</div>
	<div>
		“ Aku beriman dengan apa yang dating dari Allah Swt atas menurut maksud Allah Swt, dan beriman dengan apa yang dating dari Rasulullah Saw menurut maksud Rasulullah Saw “.</div>
	<div>
		&nbsp;</div>
	<div>
		Syaikh Salamah Al-Azaami dan selainnya mengomentari ucapan imam syafi’I tsb :</div>
	<div>
		&nbsp;</div>
	<div>
		<span dir="RTL">ومعناه لا على ما قد تذهب إليه الأوهام والظنون من المعاني الحسية والجسمية التي لا تجوز في حق الله تعالى</span>.</div>
	<div>
		&nbsp;</div>
	<div>
		“ Maknanya adalah bukan seperti yang terlitas oleh pikiran dan persangkaan dari makna fisik dan jisim yang tidak boleh bagi haq Allah Swt “</div>
	<div>
		&nbsp;</div>
	<div>
		Dan masih banyak lagi yang lainnya.</div>
	<div>
		&nbsp;</div>
	<div>
		2. Ketika imam Syafi’i ditanya tentang sifat Allah Swt, beliau menjawab :</div>
	<div>
		&nbsp;</div>
	<div>
		<span dir="RTL">حرام على العقول أن تمثل الله تعالى وعلى الأوهام أن تحد وعلى الظنون أن تقطع وعلى النفوس أن تفكر وعلى الضمائر أن تعمق وعلى الخواطر أن تحيط إلا ما وصف به نفسه – أي الله – على لسان نبيه صلى الله عليه وسلم</span></div>
	<div>
		<span dir="RTL">ذكره الشيخ ابن جهبل في رسالته انظر طبقات الشافعية الكبرى ج 9/40 في نفي الجهة عن الله التي رد فيها على ابن تيمية</span>.</div>
	<div>
		&nbsp;</div>
	<div>
		“ Haram bagi akal untuk menyerupakan Allah Swt, haram bagi pemikiran untuk membatasi Allah Swt, haram bagi persangkaan untuk memutusi Allah Swt, haram bagi jiwa untuk bertafakkur, haram bagi hati untuk memperdalam sifat Allah, haram bagi lintasan hati untuk membatasi Allah, kecuali apa yang telah Allah sifati sendiri atas lisan nabi-Nya Muhammad Saw “.</div>
	<div>
		&nbsp;</div>
	<div>
		(Telah disebutkan oleh syaikh Ibnu Jahbal di dalam Risalahnya, lihatlah Thobaqot Asy-Syafi’iyyah Al-Kubra juz : 9 halaman : 40 tentang menafikan arah dari Allah Swt sebagai bantahan atas Ibnu Taimiyyah)</div>
	<div>
		&nbsp;</div>
	<div>
		3. Di dalam kitab Ittihaafus saadatil muttaqin juz : 2 halaman ; 24, imam Syafi’I berkata :</div>
	<div>
		&nbsp;</div>
	<div>
		<span dir="RTL">إنه تعالى كان ولا مكان فخلق المكان وهو على صفة الأزلية كما كان قبل خلقه المكانَ لا يجوز عليه التغييرُ في ذاته ولا التبديل في صفاته</span>"</div>
	<div>
		&nbsp;</div>
	<div>
		“ Sesungguhnya Allah Ta’ala ada dan tanpa tempat, lalu Allah menciptakan tempat sedangkan Allah masih atas sifat azaliyah-Nya sebagaimana wujud-Nya sebelum menciptakan tempat. Mustahil bagi Allah perubahan di dalam Dzat-Nya dan juga pergantian di dalam sifat-sifat-Nya</div>
	<div>
		&nbsp;</div>
	<div>
		‎4. Di dalam kitab Syarh Al-Fiqhu Al-Akbar halaman : 52, imam Syafi’I berkata yang merupakan keseluruhan pendapat beliau tentang Tauhid :</div>
	<div>
		&nbsp;</div>
	<div>
		<span dir="RTL">من انتهض لمعرفة مدبره فانتهى إلى موجود ينتهي إليه فكره فهو مشبه وإن اطمأن إلى العدم الصرف فهو معطل وإن اطمأن لموجود واعترف بالعجز عن إدراكه فهو موحد</span></div>
	<div>
		&nbsp;</div>
	<div>
		“ Barangsiapa yang bergerak untuk mengetahui Allah Sang Maha Pengatur-Nya hingga pikirannya sampai pada hal yang wujud, maka ia adalah musyabbih (orang yang menyerupakan Allah dgn makhluq). Dan jika ia merasa tenang dengan suatu hal yang tiada, maka ia adalah mu’aththil (meniadakan sifat Allah Swt). Dan jika ia merasa tenang pada kwujudan Allah Swt dan mengakui ketidak mampuan untuk memahaminya, maka ia adalah muwahhid (orang yang mengesakan Allah Swt) “</div>
	<div>
		&nbsp;</div>
	<div>
		Sungguh imam Syafi’I begitu jeli dan luas pemahamannya akan hal ini, beliau sungguh telah mengambil dari ayat-ayat Allah Swt dalam Al-Quran :</div>
	<div>
		&nbsp;</div>
	<div>
		- {<span dir="RTL">لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَىءٌ } [سورة الشورى</span>]</div>
	<div>
		“ Tidak ada sesuatu apapun yang menyerupai Allah “</div>
	<div>
		- <span dir="RTL">فَلاَ تَضْرِبُواْ لِلّهِ الأَمْثَالَ } [سورة النحل</span>]</div>
	<div>
		“ Janganlah kalian membuat perumpamaan-perumpoamaan bagi Allah Swt “</div>
	<div>
		- :{<span dir="RTL">هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا } [سورة مريم</span>]</div>
	<div>
		“ Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia ? “</div>
	<div>
		&nbsp;</div>
	<div>
		Semua ini membuktikan bahwa imam Syafi’I Ra mensucikan Allah Swt dan sifat-sifat-Nya dari apa yang terlintas dalam pikiran berupa makna-makna jisim / fisik seperti duduk, dibatasi dengan arah, tempat, gerakan dan diam serta yang semisalnya dan inilah aqidah Ahlus sunnah wal jama’ah.</div>
	<div>
		&nbsp;</div>
	<div>
		Terbungkamlah lisan mereka..</div>
	<div>
		&nbsp;</div>
	<div>
		Bersambung</div>
	<div>
		<span dir="RTL">(Ibnu Abdillah Al-Katibity) </span></div>
</div>
<p>
	&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
      </item>
      <item>
         <title><![CDATA[Wahhabi berdusta atas nama imam Syafi'i untuk mencela ajaran tasawwuf]]></title>
         <link>http://aswaja.webnode.com/news/wahhabi-berdusta-atas-nama-imam-syafii-untuk-mencela-ajaran-tasawwuf/</link>
         <description><![CDATA[
	&nbsp;

	&nbsp;

	


	Beraninya mereka berdusta atas nama imam Syafi’i untuk mencela ajaran tasawwuf yang mereka anggap sesat. Hanya bermodalkan taqlid buta pada orang-orang yang mereka anggap paling benar dan bermodalkan ilmu yang pas-pasan.

	&nbsp;

	Mereka mencela ajaran tasawwuf dengan mencomot kalam imam Syafi’I yang mereka anggap bahwa imam Syafi’I juga mencela ajaran tasawwuf dan para penganutnya, tanpa mau mempelajari makna yang sebenarnya.

	Mereka membawakan kalam imam Syafi’I...]]></description>
         <pubDate>Thu, 12 Jan 2012 21:30:00 +0100</pubDate>
         <guid isPermaLink="true">http://aswaja.webnode.com/news/wahhabi-berdusta-atas-nama-imam-syafii-untuk-mencela-ajaran-tasawwuf/</guid>
         <category>News</category>
         <content:encoded><![CDATA[<h3>
	&nbsp;</h3>
<div>
	&nbsp;</div>
<div style="clear:both;">
	<a href="http://3.bp.blogspot.com/-ioWfPNmzqZA/TtC0xLGkYRI/AAAAAAAAAGw/o_6nxC97OaQ/s1600/di+KEDIAMAN+IMAm+HADDAD.JPG" style="clear:left;"><img border="0" height="200" src="http://3.bp.blogspot.com/-ioWfPNmzqZA/TtC0xLGkYRI/AAAAAAAAAGw/o_6nxC97OaQ/s320/di+KEDIAMAN+IMAm+HADDAD.JPG" width="320" /></a></div>
<br />
<div>
	Beraninya mereka berdusta atas nama imam Syafi’i untuk mencela ajaran tasawwuf yang mereka anggap sesat. Hanya bermodalkan taqlid buta pada orang-orang yang mereka anggap paling benar dan bermodalkan ilmu yang pas-pasan.</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	Mereka mencela ajaran tasawwuf dengan mencomot kalam imam Syafi’I yang mereka anggap bahwa imam Syafi’I juga mencela ajaran tasawwuf dan para penganutnya, tanpa mau mempelajari makna yang sebenarnya.</div>
<div>
	Mereka membawakan kalam imam Syafi’I sebagai berikut :</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	<br />
	&nbsp;</div>
<div>
	<strong>Pertama :</strong></div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div dir="RTL">
	روى البيهقي في "مناقب الشافعي" &nbsp;عن يونس بن عبد الأعلى يقول: سمعت الشافعي يقول: لو أن رجلاً تصوَّف من أول النهار لم يأت عليه الظهر إلا وجدته أحمق<span dir="LTR">.</span></div>
<div>
	Al-Imam Al-Baihaqi rahimahullahu meriwayatkan di dalam kitabnya Manaqib asy-Syafi’I dari Yunus bin Abdul A’la, aku mendengar imam Syafi’I berkata: “Jika seorang belajar tasawuf di pagi hari, sebelum datang waktu dhuhur engkau akan dapati dia menjadi orang dungu.”</div>
<div dir="RTL">
	&nbsp;</div>
<div align="right" dir="RTL">
	<strong><span dir="LTR">Kedua :</span></strong></div>
<div dir="RTL">
	وعنه أيضا أنه قال ما لزم أحد الصوفية أربعين يوما فعاد عقله إليه أبدا</div>
<div dir="RTL">
	&nbsp;</div>
<div>
	Dari imam Syafi’I juga, bahwasanya beliau berkata “Seorang yang telah bersama kaum shufiyah selama 40 hari, tidak mungkin kembali akalnya selama-lamanya.”</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div align="right" dir="RTL">
	<span dir="LTR">Benarkah imam Syafi’i seperti apa yang mereka katakan ??</span></div>
<div align="right" dir="RTL">
	&nbsp;</div>
<div align="right" dir="RTL">
	<strong><span dir="LTR">Jawaban :</span></strong></div>
<div align="right" dir="RTL">
	&nbsp;</div>
<div>
	<strong>Pertama :</strong> Khobar pertama di dalam sanadnya oleh para ulama masih diperselisihkan artinya tidak tsiqah. Dalam periwayatan lainnya menggunakan kalimat “Lau laa” (seandainya tidak).</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	Dalam kitab Hilyatul Aulia disebutkan sbgai berikut :</div>
<div dir="RTL">
	<br />
	&nbsp;حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ ، حدَّثَنِي أَبُو الْحَسَنِ بْنُ الْقَتَّاتِ ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي يَحْيَى ، ثنا يُونُسُ بْنُ عَبْدِ الأَعْلَى ، قَالَ : سَمِعْتُ الشَّافِعِيَّ ، يَقُولُ : " لَوْلا أَنَّ رَجُلا عَاقِلا تَصَوَّفَ ، لَمْ يَأْتِ الظُّهْرَ حَتَّى يَصِيرَ أَحْمَقَ<span dir="LTR"> " </span></div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	“ Seandainya orang yang berakal tidak bertasawwuf, maka belum sampai dhuhur,&nbsp; ia akan menjadi dungu “</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	Sanad periwayatan ini muttasil dari pengarang kitab Hiltyatul Aulia hingga sampai pada imam Syafi'i dan lebih kuat karena menggunakan shighah tahdits / sama’ (lambang periwayatan yang didengarkan secara langsung secara estafet).</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	<strong>Kedua ;</strong> Mereka menukil ucapan imam Syafi’I tersebut dengan bodoh terhadap makna yang sebenarnya.Benarkah itu sebuah celaan terhadap ajaran tasawwuf ??</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div dir="RTL">
	<span dir="LTR">Makna yang sesungguhnya adalah :</span></div>
<div dir="RTL">
	&nbsp;</div>
<div dir="RTL">
	<span dir="LTR">&nbsp;<strong>“ Tidaklah seseorang belajar tasawwuf tanpa didahului ilmu fiqih, maka tidaklah datang waktu dhuhur maksudnya waktu sholat, kecuali dia dalam keadaan dungu yakni dalam keadaan bodoh, dia tidak mengerti bagaimana&nbsp;</strong></span></div>
<div dir="RTL">
	<span dir="LTR"><strong>beribadah dengan Tuhannya “.</strong></span></div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	Makna seperti ini sesuai dengan kalam para ulama lainnya seperti imam Sirri As-Saqothi yang berkata kepada imam Junaid dan disebutkan oleh al-Hafidz Abu Thalib Al-Makki dalam kitabnya Qutul Qulub sebagai berikut :</div>
<div>
	“ Imam Sirri as-Saqothi berkata pada imam Junaid “ Jika kau berpisah dariku, siapakah yang kau duduk bersamanya ? Imam Junaid menjawab “ Al-Harist al-Muhasibi “. Imam Sirri berkata “ Benar, ambillah ilmu dan adabnya, dan tinggalkan kalam lembutnya “. Imam Junaid berkata “ Ketika aku hendak pergi aku mendengar beliau berkata :</div>
<div align="center">
	<span dir="RTL">جعلك اللّه صاحب حديث صوفياً ولا جعلك صوفياً صاحب حديث</span></div>
<div>
	<em>“ Semoga Allah menjadikanmu ahli hadits yang bertasawwuf dan tidak menjadikanmu ahli tasawwuf yang pandai hadits “.</em></div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	<strong>Ketiga ; </strong>Mereka menukil ucapan imam Syafi’I tersebut dari imam Baihaqi dalam kitabnya Manaqib Asy-Syafi’i. Seandainya mereka mau jujur, maka mereka seharusnya juga menampilkan kalam imam Baihaqi terhadap kalam imam Syafi’I tersebut dan tidak membuangnya. Namun karena tujuan mereka untuk mengelabui umat dari makna yang sebenarnya, mereka tak lagi peduli pada kejujuran dan amanat. Fa laa haula wa laa quwwata illa billahi..</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	Berikut komentar beliau stelah menampilkan kalam imam Syafi'i tsb dalam kitab beliau Manaqib Asy-Syafi'i juz 2 halaman 207 :<br />
	<br />
	<span dir="RTL">قلت : وإنما أراد به من دخل في الصوفية واكتفى بالاسم عن المعنى، وبالرسم عن الحقيقة، وقعد عن الكسب، وألقى مؤنته على المسلمين، ولم يبال بهم، ولم يرع حقوقهم ولم يشتغل بعلم ولا عبادة، كما وصفهم في موضع آخر </span></div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	" Aku katakan (Imam Al Baihaqi menjelaskan maksud perkataan Imam As Syafi’i tersebut): ” Sesungguhnya yang imam Syafi'i maksud adalah orang yang masuk dalam shufi namun hanya cukup dengan nama bukan dengan makna (pengamalan), merasa cukup dengan simbol dan melupakan hakekat shufi, malas bekerja, membebankan nafkah pada kaum muslimin tapi tidak peduli dgn mereka, tidak menjaga haq-haq mereka, tidak menyibukkan diri dengan ilmu dan ibadah, sebagaimana beliau menyifai hal ini di tempat yang lainnya. "</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	(Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al Baihaqi, 2/207)</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	Inilah yang dimaksud oleh imam Syafi'i, maka jelas bahwa beliau tidak mencela ajaran tasawwuf dan penganutnya.</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	Dan cukup kalam imam Syafi’i berikut ini dalam bentuk bait syi’ir untuk membungkam hujjah mereka :</div>
<div align="right" dir="RTL">
	&nbsp;</div>
<div align="center" dir="RTL">
	فقيهاً وصوفياً فكن ليس واحدا فإنــي وحـق الله إيـاك أنصح</div>
<div align="center" dir="RTL">
	فذلك قاس لم يذق قلبه تقــى وهذا جهول كيف ذو الجهل يصلح</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	<strong>“ Jadilah kamu seorang ahli fiqih yang bertasawwuf jangan jadi salah satunya, sungguh dengan haq Allah aku menasehatimu.</strong></div>
<div>
	<strong>Jika kamu menjadi ahli fiqih saja, maka hatimu akan keras tak akan merasakan nikmatnya taqwa. Dan jka kamu menjadi yang kedua saja, maka sungguh dia orang teramat bodoh, maka orang bodoh tak akan menjadi baik “.</strong></div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	(Diwan imam Syafi’i halaman : 19)</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	Bersambung..</div>
<p>
	<strong>(Ibnu Abdillah Al-Katibiy)</strong></p>
]]></content:encoded>
      </item>
      <item>
         <title><![CDATA[Meluruskan kesalah paham sekte wahhabi salafi tentang ajaran Tasawwuf yang mulia]]></title>
         <link>http://aswaja.webnode.com/news/meluruskan-kesalah-paham-sekte-wahhabi-salafi-tentang-ajaran-tasawwuf-yang-mulia/</link>
         <description><![CDATA[
	Tidak ada yang menentang ajaran tasawwuf selain orang-orang bodoh dan merugi. Mereka menentang dan mencela ajaran tasawwuf atas dasar pandangan kejahilan dan taqlid buta terhadap para “pendahulu” mereka yang juga mencelanya. Terlebih setelah adanya oknum yang mengatasnamakan ajaran tasawwuf namun kosong dari ilmu fiqih, kosong dari dasar syare’at, sehingga menciderai citra baik tasawwuf dan shufi.

	&nbsp;

	Pandangan yang adil dan bijak, akan menghantarkan pada pandangan akan kemuliaan dan...]]></description>
         <pubDate>Thu, 12 Jan 2012 21:26:00 +0100</pubDate>
         <guid isPermaLink="true">http://aswaja.webnode.com/news/meluruskan-kesalah-paham-sekte-wahhabi-salafi-tentang-ajaran-tasawwuf-yang-mulia/</guid>
         <category>News</category>
         <content:encoded><![CDATA[<div>
	Tidak ada yang menentang ajaran tasawwuf selain orang-orang bodoh dan merugi. Mereka menentang dan mencela ajaran tasawwuf atas dasar pandangan kejahilan dan taqlid buta terhadap para “pendahulu” mereka yang juga mencelanya. Terlebih setelah adanya oknum yang mengatasnamakan ajaran tasawwuf namun kosong dari ilmu fiqih, kosong dari dasar syare’at, sehingga menciderai citra baik tasawwuf dan shufi.</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	Pandangan yang adil dan bijak, akan menghantarkan pada pandangan akan kemuliaan dan keluhuran ajaran tasawwwuf dan penganutnya. Menghantarkan akan kenikmatan ibadah dan iman, karena tasawwuf hanyalah sebuah istilah namun konsepnya tidak ada lain adalah ebuah konsep pengamalan dan penerapan rukun agama yang ke-tiga yaitu Ihsan.</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	Berikut adalah pendapat dan pujian para ulama salaf hingga ulama kholaf, para imam madzhab dan para ulama pengikutnya atas ajaran Tasawwuf dan ulama shufiyyah.</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	Penjelasan yang terang bagaikan siang hari dengan sinar matahari yang sempurna. Jika masih ada yang menentang dan mencela ajaran tasawwuf secara membabi buta, maka ia ibarat orang yang masih butuh lampu penerang di siang hari yang terang dengan sinar matahari yang sempurna. &nbsp;</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	1. Imam Syafi’I Rahimahullah berkata :</div>
<div dir="RTL">
	فقيهاً وصوفياً فكن ليس واحدا فإنــي وحـق الله إيـاك أنصح</div>
<div dir="RTL">
	فذلك قاس لم يذق قلبه تقــى وهذا جهول كيف ذو الجهل يصلح</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	<strong>“ Jadilah kamu seorang ahli fiqih yang bertasawwuf jangan jadi salah satunya, sungguh dengan haq Allah aku menasehatimu.</strong></div>
<div>
	<strong>Jika kamu menjadi ahli fiqih saja, maka hatimu akan keras tak akan merasakan nikmatnya taqwa. Dan jka kamu menjadi yang kedua saja, maka sungguh dia orang teramat bodoh, maka orang bodoh tak akan menjadi baik “.</strong></div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	(Diwan imam Syafi’i halaman : 19)</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	2. Imam Nawawi Rahimahullah berkata :</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div dir="RTL">
	أصول طريق التصوف خمسة: تقوى الله في السر والعلانية. اتباع السنة في الأقوال والأفعال. الإِعراض عن الخلق في الإِقبال والإِدبار. الرضى عن الله في القليل والكثير.الرجوع إِلى الله في السراء والضراء.</div>
<div dir="RTL">
	&nbsp;</div>
<div>
	“ Pokok-pokok metode ajaran tasawwuf ada lima : Taqwa kepada Allah di dalam sepi maupun ramai, mengikuti sunnah di dalam ucapan dan perbuatan, berpaling dari makhluk di dalam penghadapan maupun saat mundur, ridha kepada Allah dari pemberian-Nya baik sedikit ataupun banyak dan selalu kembali pada Allah saat suka maupun duka “.</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	(Risalah Al-Maqoshid fit Tauhid wal Ibadah wa Ushulut Tasawwuf halaman : 20, Imam Nawawi)</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	3. Al-Imam Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Atsqalani berkata :</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div dir="RTL">
	وروى الخطيب بسند صحيح أن الإمام أحمد سمع كلام المحاسبي فقال لبعض أصحابه ما سمعت في الحقائق مثل كلام هذا الرجل ولا أرى لك صحبتهم . قلت – أي الإمام ابن حجر - إنما نهاه عن صحبتهم لعلمه بقصوره عن مقامهم فإنه في مقام ضيق لا يسلكه كل واحد ويخاف على من يسلكه أن لا يوفيه حقه. وقال الأستاذ أبو منصور البغدادي – عن الحارث المحاسبي - في الطبقة الأولى من أصحاب الشافعي كان إماما في الفقه والتصوف والحديث والكلام وكتبه في هذه العلوم أصول من يصنف فيها</div>
<div dir="RTL">
	&nbsp;</div>
<div>
	“ Al-Khatib meriwayatkan dengan sanad yang shahih bahwa imam Ahmad mendengar ucapan Al-Muhasibi, maka beliau berkata pada sahabat-sahabatnya “ Aku belum pernah mendengar ucapan tentang hakikat-hakikat seperti ucapan al-Muhasibi ini dan aku berpendapat jangan engkau berteman dengan semisal al-Muhasibi. Aku (Ibnu Hajar) katakana : “ Sesungguhnya imam Ahmad melarang untuk berteman dengan orang semisal al-Muhasibi , karena beliau mengetahui pendeknya maqam (kedudukannya) dibandingkan kedudukan mereka. Karena al-Muhasibi berada di dalam maqam dhiq (sempit) yang tidak mampu ditapaki oleh setiap orang dan dikhawatirkan bagi orang yang menapaki tidak bisa memenuhi haqnya. Ustadz Abul Manshur al-Baghdadi berkata “ Dari al-Harits al-Muhasibi di dalam bab Tingkatan pertama dari pengikut Imam Syafi’i “ Beliau al-Muhasibi adalah seorang imam di bidang ilmu fiqih, tasawwuf, hadits dan kalam. Dan kitab beliau di dalam ilmu ini merupakan ushul&nbsp; / sandaran bagi ulama yang mengarang kitab ilmu “.</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	(Tahdzib at-Tahdzib juz 2 halaman : 117, karya imam Ibnu Hajar al-Asqalani)</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	4. Al-Allamah al-Hafidz Ibnu Hajar al-Haitami berkata :</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div dir="RTL">
	إياك أن تنتقد على السادة الصوفية : وينبغي للإنسان حيثُ أمكنه عدم الانتقاد على السادة الصوفية نفعنا الله بمعارفهم، وأفاض علينا بواسطة مَحبتَّنا لهم ما أفاض على خواصِّهم، ونظمنا في سلك أتباعهم، ومَنَّ علينا بسوابغ عوارفهم، أنْ يُسَلِّم لهم أحوالهم ما وجد لهم محملاً صحيحاً يُخْرِجهم عن ارتكاب المحرم، وقد شاهدنا من بالغ في الانتقاد عليهم، مع نوع تصعب فابتلاه الله بالانحطاط عن مرتبته وأزال عنه عوائد لطفه وأسرار حضرته، ثم أذاقه الهوان والذلِّة وردَّه إلى أسفل سافلين وابتلاه بكل علَّة ومحنة، فنعوذ بك اللهم من هذه القواصم المُرْهِقات والبواتر المهلكات، ونسألك أن تنظمنا في سلكهم القوي المتين، وأن تَمنَّ علينا بما مَننتَ عليهم حتى نكون من العارفين والأئمة المجتهدين إنك على كل شيء قدير وبالإجابة جدير.</div>
<div dir="RTL">
	&nbsp;</div>
<div>
	“ Berhati-hatilah kamu dari menentang para ulama shufi. Dan sebaiknya bagi manusia sebisa mungkin untuk tidak menentang para ulama shufi, semoga Allah member manfaat kpeada kita dengan ma’rifat-ma’rifat mereka dan melimpahkan apa yang Allah limpahkan kepada orang-orang khususnya dengan perantara kecintaan kami pada mereka, menetapkan kita pada jalan pengikut mereka dan mencurahkan kita curahan-curahan ilmu ma’rifat mereka. Hendaknya manusia menyerahkan apa yang mereka lihat dari keadaan para ulama shufi dengan kemungkinan-kemungkinan baik yang dapat mengeluarkan mereka dari melakukan perbuatan haram.</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	Kami sungguh telah menyaksikan orang yang sangat menentang ulama shufi, mereka para penentang itu mendapatkan ujian dari Allah dengan pencabutan derajatnya, dan Allah menghilangkan curahan kelembutan-Nya dan rahasia-rahasia kehadiran-Nya. Kemudian Allah menimpakan para penentang itu dengan kehinaan dan kerendahan dan mengembalikan mereka pada derajat terendah. Allah telah menguji mereka dengan semua penyakit dan cobaan . Maka kami berlindung kepada-Mu ya Allah dari hantaman-hantaman yang kami tidak sanggup menahannya dan dari tuduhan-tuduhan yang membinasakan. Dan kami memohon agar Engkau menetapi kami jalan mereka yang kuat, dan Engkau anugerahkan kami &nbsp;apa yang telah Engkau anugerahkan pada mereka sehingga kami menjadi orang yang mengenal Allah dan imam yang mujtahid, sesungguhnya Engkau maha Mampu atas segala sesuatu dan maha layak untuk mengabulkan permohonan “</div>
<div>
	(Al-Fatawa Al-Haditsiyyah : 113, karya Imam Ibnu Hajar al-Haitami)</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	5. Al-Imam Al-Allamah Syaikhul Islam Tajuddin As-Subuki berkata :</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div dir="RTL">
	حَيَّاهمُ الله وبيَّاهم وجمعنا في الجنة نحن وإِياهم. وقد تشعبت الأقوال فيهم تشعباً ناشئاً عن الجهل بحقيقتهم لكثرة المُتلبِّسين بها، بحيث قال الشيخ أبو محمد الجويني لا يصح الوقف عليهم لأنه لا حدَّ لهم. والصحيح صحته، وأنهم المعرضون عن الدنيا المشتغلون في أغلب الأوقات بالعبادة.. ثم تحدث عن تعاريف التصوف إِلى أن قال: والحاصل أنهم أهل الله وخاصته الذين ترتجى الرحمة بذكرهم، ويُستنزل الغيث بدعائهم، فرضي الله عنهم وعنَّا بهم</div>
<div dir="RTL">
	&nbsp;</div>
<div>
	“ Semoga Allah memanjangkan hidup para penganut tasawwuf dan mengangkat derajat mereka serta mengumpulkan kita dan mereka di surga. Sungguh telah banyak pendapat miring tentang mereka yang bersumber dari kejahilan akan hakekat mereka disebabkan oknum-oknum yang membuat samar ajaran tasawwuf. Oleh karenanya syaikh Abu Muhammad Al-Juwaini berkata “ Tidak boleh berhenti dalam mendefiniskan mereka, sebab mereka tak memiliki batasan istilah. Yang benar adalah keabsahannya dan definisi shufiyyah adalah orang-orang yang berpaling dari dunia yang menyibukkan diri disebagian besar waktunya dengan beribadah. Kemudian bermunculanlah ta’rif-ta’rif baru tentang tasawwuf..(sampai ucapan beliau) : “..Kesimpulannya ulama tasawwuf adalah keluarga dan orang-orang khusus Allah yang diharapan &nbsp;turunnya rahmat dengan menyebut nama mereka dan turunnya hujan dengan perantara doa mereka. Maka semoga Allah meridhoi mereka dan kita semua dengan sebab mereka “.</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	(Mu’idun Ni’am wa Mubidun Niqam halaman : 140, karya imam Subuki)</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	6. Al-Imam Al-Allamah Al-Hafidz Jalaluddin As-Suyuthi berkata :</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div dir="RTL">
	اعلم وفقني الله وإياك أن علم التصوف في نفسه علم شريف رفيع قدره سني أمره ، لم تزل أئمة الإسلام وهداة الأنام قديماً وحديثاً يرفعون مناره وَيُجِلُّون مقداره ويعظمون أصحابه ويعتقدون أربابه ، فإنهم أولياء الله وخاصته من خلقه بعد أنبيائه ورسله ، غير أنه دخل فيهم قديماً وحديثاً دخيل تشبهوا بهم وليسوا منهم وتكلموا بغير علم وتحقيق فزلوا وصلوا وأضلوا ، فمنهم من اقتصر على الاسم وتوسل بذلك إلى حطام الدنيا ، ومنهم من لم يتحقق فقال بالحلول وما شابهه فأدى ذلك إلى إساءة الظن بالجميع ، وقد نبه المعتبرون منهم على هذا الخطب الجليل ونصوا على أن هذه الأمور السيئة من ذلك الدخيل.</div>
<div dir="RTL">
	&nbsp;</div>
<div>
	“ Ketahuilah, semoga Allah memberikan taufiq-Nya padaku dan kamu, sesungguhnya ilmu tasawwuf itu sendiri adalah ilmu yang mulia, tinggi derajatnya dan luhur urusannya. Para imam Islam dan para ulama penunjuk manusia&nbsp; sejak dulu hingga sekarang selalu mengangkat lambangnya, meninggikan martabatnya dan mengangungkan para pemeluknya dan meyakini kemulian ahlinya. Karena mereka adalah para wali Allah Swt dan orang-orang khusus-Nya dari makhluk-Nya setelah para nabi dan rasul-Nya, akan tetapi masuklah sesuatu yang asing sejak dulu hingga sekarang yang menyerupai penganut tasawwuf &nbsp;padahal sama sekali mereka bukanlah dari ahli tasawwuf. Mereka berbicara tanpa ilmu dan mengerti hakikat, sehingga mereka tergelincir, sesat dan menyesatkan. Di antara mereka ada yang mencukupkan saja dengan nama dan menjadikan perantara untuk mengambil keuntungan dunia. Di antara mereka ada yang belum mencapai hakikat sehingga mereka berucap dengan hulul dan semisalnya, sehingga itu semua membuat munculnya buruk sangka terhadap semua ajaran tasawwuf. Sungguh para pengambil pelajaran dari mereka telah member peringatan atas nasehat mulia ini dan menetapkan bahwa semua perkara buruk ini muncul dari sesuatu yang asing (di luar tasawwuf) tersebut “.</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	(Ta’yidul Haqiqah al-‘Aliyyah Wa Tasyiduth Thariqah asy-Syadziliyyah halaman : 7, karya imam as-Suyuthi)</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	7. Al-Imam Al-Allamah Al-Mufassir Fakhruddin Ar-Razi berkata :</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div dir="RTL">
	الباب الثامن في أحوال الصوفية:اعلم أن أكثر مَنْ حَصَرَ فرق الأمة، لم يذكر الصوفية وذلك خطأ، لأن حاصل قول الصوفية أن الطريق إِلى معرفة الله تعالى هو التصفية والتجرد من العلائق البدنية، وهذا طريق حسن.. وقال أيضاً: والمتصوفة قوم يشتغلون بالفكر وتجرد النفس عن العلائق الجسمانية، ويجتهدون ألاَّ يخلو سرَّهم وبالَهم عن ذكر الله تعالى في سائر تصرفاتهم وأعمالهم، منطبعون على كمال الأدب مع الله عز وجل، وهؤلاء هم خير فرق الآدميين</div>
<div>
	“ Bab kedelapan : Tentang keadaan-keadaan ahli tasawwuf. Ketahuilah, sesungguhnya kebanyakan orang yang menghitung pembagian golongan umat tidak menyebut golongan ahli tasawwuf dan hal itu salah, karena keseluruhan ucapan ahli tasawwuf adalah sesungguhnya jalan menuju pengenalan kepada Allah Ta’ala adalah Tashfiyyah (penyucian) dan membersihkan diri dari ketergantungan badan, dan jalan ini merupakan jalan yang baik. Beliau juga berkata “ Kaum shufi adalah orang-orang yang menyibukkan diri dengan tafakkur dan membersihkan jiwa dari ketergantungan jasmaniyah, berusaha keras agar hati mereka tidak kosong dari mengingat Allah Ta’ala di dalam gerak-gerik mereka, selalu berpegang dengan kesempurnaan adab bersama Allah, dan merekalah paling baiknya golongan anak manusia “.</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	(I’tiqadaat firaqil Muslimin wal musyrikin halaman : 72-73, Karya imam Fakhruddin Ar-Razi)</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	8. Al-Imam Al-Allamah Al-Hafidz Abdu Rauf al-Manawi berkata :</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div dir="RTL">
	وإني كنت قبل أن يكتب الشباب خط العذار , أردد ناظري في أخبار الأولياء الأخيار , وأتتبع مواقع إشارات حكم الصوفية الأبرار , وأترقب أحوالهم وأسبر أقوالهم ... حتى حصلت من ذلك على فوائد عاليات , وحكم شامخات ساميات فألهمت أن أقيد ما وقفت عليه في ورقات , وأن أجعله في ضمن التراجم , كما فعله بعض الأعاظم الأثبات , فأنزلت الصوفية في طبقات , وضربت لهم في هذا المجموع سرادقات , ورتبتهم على حروف المعجم عشر طبقات , كل مائة سنة طبقة , وجمعتهم كواكب كلها معالم للهدي , ومصابيح للدجى , ورجوم للمسترقة</div>
<div>
	“ Sesungguhnya aku sebelum seorang pemuda dicatat akan catatan alasannya, ingin mencermati kisah-kisah para wali Allah yang terpilih, aku telusuri isyarat-isyarat hokum ahli shufi yang baik dan aku selidiki keadaan-keadaan mereka dan aku kuak ucapan-ucapan mereka hingga aku mendapatkan beberapa faedah yang tinggi sebab itu dan hikmah-hikmah berbobot nan luhur. Lalu aku mendapatkan ilham agar mencatat apa yang aku dalami itu pada sebuah buku, dan agar aku buat isi biografi perjalanan mereka sebagaimana telah dilakukan sebagian besar ulama. Maka aku posisikan ulama shufi dalam beberapa tingkatan dan ku beberkan beberapa tenda dalam kumpulan ini. Aku tertibkan nama mereka menjadi sepuluh tingkatan. Setiap seratus tahun satu tingkatan dan aku kumpulkan bintang-bintang seluruhnya bagaikan petunjuk bagi kebenaran dan penerang bagi kegelapan serta panah api bagi si pencuri “.</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	(Al-Kawaiku Ad-Durriyyah fii Tarajimi ash-Shufiyyah halaman : 3-4, karya imam Abdur Raouf al-Manawi)</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	9. Al-Imam Al-Kabir Abdul Qahir Al-Baghdadi berkata :</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div dir="RTL">
	الفصل الأول من فصول هذا الباب في بيان أصناف أهل السنة والجماعة. اعلموا أسعدكم الله أن أهل السنة والجماعة ثمانية أصناف من الناس... والصنف السادس منهم: الزهاد الصوفية الذين أبصروا فأقصروا، واختَبروا فاعتبروا، ورضوا بالمقدور وقنعوا بالميسور، وعلموا أن السمع والبصر والفؤاد كل أُولئك مسؤول عن الخير والشر، ومحاسب على مثاقيل الذر، فأعدُّوا خير الإِعداد ليوم المعاد، وجرى كلامهم في طريقَيْ العبارة والإِشارة على سَمْتِ أهل الحديث دون من يشتري لهو الحديث، لا يعملون الخير رياء، ولا يتركونه حياء، دينُهم التوحيد ونفي التشبيه، ومذهبهم التفويضُ إِلى الله تعالى، والتوكلُ عليه والتسليمُ لأمره، والقناعةُ بما رزقوا، والإِعراضُ عن الاعتراض عليه. {ذلكَ فضلُ اللهِ يؤتِيهِ مَنْ يشاءُ واللهُ ذو الفضلِ العظيمِ</div>
<div>
	“ Fasal pertama dari fasal-fasal bab ini, tentang penjelasan kelompok-kelompok Ahlus sunnah waljama’ah. Ketahuilah, semoga Allah membuat kalian bahagia, sesungguhnya Ahlus sunnah waljama’ah ada delapan kelompok manusia..(hingga ucapan beliau)..” Kelompok ke enam di anatara mereka adalah orang-orang yang zuhud dan ahlis shufi yang mereka memandang dengan mata hati hingga mereka bisa&nbsp; berlaku sederhana, mereka mendapat ujian dan mereka mengambil pelajarannya. Mereka ridha dengan ketentuan dan legowo dengan hal yang ringan. Mereka ahli shufi mengetahui bahwa pendengaran, penglihatan dan hati semuanya akan dimintai pertangung jawabannya dari kebaikan atau keburukan dan akan dihisab walau seberat biji atom pun. Maka mereke mempersiapkan diri dengan sebaik-baik bekal untuk hari kembali kelak dan ucapan mereka berjalan di dalam dua jalan ibarat dan isyarat berdasarkan karakter ahli hadits bukan orang yang menjual permainan hadits. Mereka beramal kebaikan tidak dengan pamer dan tidak meninggalkan kebaikan karena malu. Agama mereka Tauhid dan meniadakan Tasybih (penyerupaan) dan mazdhab mereka Tafwidh (menyerahkan makna) kepada Allah Swt, tawakkal dan penyerahan diri kepada perintah Allah. Qonaah terhadap rezeki yang mereka dapat dan berpaling dari mengeluh atas-Nya. Itulah keutamaan Allah yang Allah berikan pada orang yang dikehendaki-Nya dan Allah maha memiliki keutamaan yang agung “.</div>
<div>
	(Al-Farq bainal Firaq halaman : 236)</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	10. Al-Imam Hujjatul Islam Al-Ghozali berkata :</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div dir="RTL">
	ولقد علمت يقيناً أن الصوفية هم السالكون لطريق الله تعالى خاصة وأن سيرتهم أحسن السيرة، وطريقتهم أصوب الطرق، وأخلاقهم أزكى الأخلاق.. ثم يقول رداً على من أنكر على الصوفية وتهجَّم عليهم: وبالجملة فماذا يقول القائلون في طريقةٍ طهارتُها - وهي أول شروطها - تطهيرُ القلب بالكلية عما سوى الله تعالى، ومفتاحها الجاري منها مجرى التحريم من الصلاة استغراقُ القلب بالكلية بذكر الله، وآخرها الفناء بالكلية في الله</div>
<div dir="RTL">
	&nbsp;</div>
<div>
	“ Sungguh aku telah mengetahui secara yakin bahwa ahli tasawwuf mereka adalah orang yang menapaki jalan Allah Ta’ala secara khusus, sejarah hidup mereka sebaik-sebaik sejarah. Jalan mereka paling benarnya jalan. Akhlak mereka sesuci-sucinya akhlak. (kemudian beliau berkata sebagai jawaban pada orang yang mengingkari ahli tasawwuf) : “ Kesimpulannya, apa yang akan dikatakan para penentang mereka di dalam metode pembersihan ajaran tasawwuf ? sedangkan itu merupakan syarat pertama yaitu membersihkan hati secara keseluruhan dari selain Allah Ta’ala dan kuncinya yang berlaku darinya seperti berlakunya takbiratul ihram saat sholat yaitu tenggelamnya hati secara keseluruhan dengan mengingat Allah dan akhirnya adalah fana secara keseluruhan di dalam Allah Swt “.</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	(Al-Munqidz minadh Dholal : 17, karya imam Ghozali)</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	11. &nbsp;Al-Imam Al-Hafidz Abu Nu’aim Al-Ashfihani berkata :</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div dir="RTL">
	أما بعد أحسن الله توفيقك فقد استعنت بالله عز وجل وأجبتك الى ما ابتغيت من جمع كتاب يتضمن أسامي جماعة وبعض أحاديثهم وكلامهم من أعلام المتحققين من المتصوفة وأئمتهم وترتيب طبقاتهم من النساك من قرن الصحابة والتابعين وتابعيهم ومن بعدهم ممن عرف الأدلة والحقائق وباشر الأحوال والطرائق وساكن الرياض والحدائق وفارق العوارض والعلائق وتبرأ من المتنطعين والمتعمقين ومن أهل الدعاوى من المتسوفين ومن الكسالى والمتثبطين المتشبهين بهم في اللباس والمقال والمخالفين لهم في العقيدة والفعال وذلك لما بلغك من بسط لساننا ولسان أهل الفقه والآثار في كل القطر والأمصار في المنتسبين إليهم من الفسقة الفجار والمباحية والحلولية الكفار وليس ما حل بالكذبة من الوقيعة والإنكار بقادح في منقبة البررة الأخيار وواضع من درجة الصفوة الأبرار بل في إظهار البراءة من الكذابين , والنكير على الخونة الباطلين نزاهة للصادقين ورفعة للمتحققين ولو لم نكشف عن مخازي المبطلين ومساويهم ديانة , للزمنا إبانتها وإشاعتها حمية وصيانة , إذ لأسلافنا في التصوف العلم المنشور والصيت والذكر المشهور</div>
<div dir="RTL">
	&nbsp;</div>
<div>
	“ Selanjutnya, semoga Allah memperbagus taufiqmu, maka sungguh aku telah memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala dan menjawabmu atas apa yang engkau mau dari pengumpulan kitab yang mengandung nama-nama kelompok dan sebagian hadits dan ucapan mereka dari ulama hakikat dari orang-orang ahli tasawwuf, para imam dari mereka, penertiban tingkatan mereka dari orang-orang ahli ibadah sejak zaman sahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in dan setelahnya dari orang yang memahami dalil dan hakikat. Menjalankan hal ihwal serta thariqah, bertempat di taman (ketenangan) dan meninggalkan ketergantungan. Berlepas dari orang-orang yang berlebihan dan orang-orang yang mengaku-ngaku, orang-orang yang berandai-andai dan dari orang-orang yang malas yang menyerupai mereka di dalam pakaian dan ucapan dan bertentangan pada mereka di dalam aqidah dan perbuatan. Demikian itu ketika sampai padamu dari pemaparan lisan kami dan lisan ulama fiqih dan hadits di setiap daerah dan masa tentang orang-orang yang menisabatkan diri pada mereka adalah orang-orang fasiq, fajir, suka mudah berkata mubah dan halal lagi kufur. Bukanlah menghalalkan dengan kedustaan, umpatan dan pengingkaran dengan celaan di dalam manaqib orang-orang baik pilihan dan perendahan dari derajat orang-orang suci lagi baik, akan tetapi di dalam menampakkan pelepasan diri dari orang-orang pendusta dan pengingkaran atas orang-orang pengkhianat, bathil sebagai penyucian bagi orang-orang jujur dan keluhuran bagi orang-orang ahli hakikat. Seandainya kami tidak menyingkap kehinaan dan keburukan orang-orang yang mengingkari tasawwuf itu sebagai bagian dari agama, maka kami pasti akan menjelaskan dan mengupasnya sebagai penjagaan, karena salaf kami di dalam ilmu tasawwuf memiliki ilmu yang sudah tersebar dan nama yang masyhur “.</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	(Muqoddimah Hilyah Al-Awliya, karya imam Al-Ashfihani)</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	12. Al-Imam Al-Kabir Al-Mufassir An-Nadzdzar Abi Al- muzdhaffar Al-Isfirayaini berkata :</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div dir="RTL">
	في الباب الخامس عشر : في بيان اعتقاد أهل السنة والجماعة وبيان مفاخرهم ومحاسن أحوالهم وسادسها : علم التصوف والإشارات , وما لهم فيها من الدقائق والحقائق , لم يكن قط لأحد من أهل البدعة فيه حظ بل كانوا محرومين مما فيه من الراحة والحلاوة , والسكينة والطمأنينة وقد ذكر أبو عبد الرحمن السلمي من مشايخهم قريبا من ألف ، وجمع إشاراتهم وأحاديثهم ولم يوجد في جملتهم قط من ينسب إلى شيء من بدع القدرية والروافض ، والخوارج ، وكيف يتصور فيهم من هؤلاء وكلامهم يدور على التسليم ، والتفويض والتبري من النفس ، والتوحيد بالخلق والمشيئة ، وأهل البدع ينسبون الفعل ، والمشيئة ، والخلق ، والتقدير إلى أنفسهم ، وذلك بمعزل عما عليه أهل الحقائق من التسليم والتوحيد</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	Di bab ke-15 : Tentang penjelasan aqidah Ahlus sunnah waljama’ah dan penjelasan kebanggaan serta kebaikan hal ihwal mereka. Fasal yang ke- 6 adalah : Ilmu Tasawwuf dan isyarat dan apa yang mereka miliki dari ilmu-ilmu yang lembut dan ilmu hakikat. Yang tidak akan mendapat bagian sedikitpun dari ilmu ini orang-orang ahli bid’ah bahkan mereka terhalang mendapatkan apa yang ada pada ulama tasawwuf dari ketenangan, manisnya ibadah, sakinah dan tuma’ninah. Abu Abdirrahman As-Salmi telah menyebutkan guru-guru mereka hampir mendekati seribu, mengumpulkan isyarat dan hadits mereka namun tak ditemukan satu pun dari mereka orang-orang ahli bid’ah seperti qodariyyah, rowafidh dan khowarij. Bagaimana bisa tergambar pada mereka padahal ucapan ahli tasawwuf berputar pada taslim, tawakkal dan berlepas dari diri. Dan bertauhid&nbsp; dengan akhlak dan keinginan. Sedangkan ahlul bid’ah menisbatkan perbuatan dan keinginan, akhlak dan pennetuan pada diri mereka. Hal ini bertentangan dengan ahli hakikat dari sifat taslim dan tauhid “.</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	(At-Tabshir fiddin halaman : 164, karya imam al-Isfirayaini)</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	Bersambung…</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<p>
	(Ibnu Abdillah Al-Katibiy)</p>
]]></content:encoded>
      </item>
      <item>
         <title><![CDATA[Debat Terbuka Sunni VS Wahabi]]></title>
         <link>http://aswaja.webnode.com/news/debat-terbuka-sunni-vs-wahabi/</link>
         <description><![CDATA[
	
		


	Masih ingat “Buku Pintar Berdebat Dengan Wahabi” yang pernah dishare di blog Ummati beberpa bulan yang lau? Ternyata buku hebat dan ilmiyyah full fakta tersebut tidak membuat kaum Wahabi sadar, justru membuat mereka semakin kebakaran jenggot. Ada ulama Wahabi dari Saudi Arabia yang pernah tinggal di Jember mencak-mencak dan mencoba memberi perlawanan sebisanya. Lho…. Wahabi ini gemana sih, fakta kok dilawan?

	Untuk mengetahui bagaimana perlawanan Syaikh Wahabi dari Saudi Arabia...]]></description>
         <pubDate>Thu, 12 Jan 2012 21:21:00 +0100</pubDate>
         <guid isPermaLink="true">http://aswaja.webnode.com/news/debat-terbuka-sunni-vs-wahabi/</guid>
         <category>News</category>
         <content:encoded><![CDATA[<div class="addtoany_share_save_container">
	<div class="a2a_kit a2a_target addtoany_list" id="wpa2a_1">
		<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img alt="Share" height="16" src="http://ummatipress.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" /></a></div>
</div>
<p>
	<strong><a href="http://ummatipress.com/2011/12/27/inilah-lanjutan-debat-terbuka-sunni-vs-wahabi/debat-terbuka-sunni-vs-wahabi/" rel="attachment wp-att-5409"><img alt="Sunni VS Wahhabi" class="alignleft size-full wp-image-5409" height="237" src="http://ummatipress.com/wp-content/uploads/2011/12/Debat-Terbuka-Sunni-VS-Wahabi.jpg" title="Debat Terbuka Sunni VS Wahabi" width="229" /></a>Masih ingat “Buku Pintar Berdebat Dengan Wahabi” yang pernah dishare di blog Ummati</strong> beberpa bulan yang lau? Ternyata <strong>buku hebat dan ilmiyyah full fakta tersebut tidak membuat kaum Wahabi sadar</strong>, justru membuat mereka semakin kebakaran jenggot. Ada ulama Wahabi dari Saudi Arabia yang pernah tinggal di Jember <em>mencak-mencak</em> dan mencoba memberi perlawanan sebisanya.<em><strong> Lho…. Wahabi ini gemana sih, fakta kok dilawan?</strong></em></p>
<p>
	Untuk mengetahui bagaimana perlawanan Syaikh Wahabi dari Saudi Arabia tersebut anda bisa membacanya di buku terbaru karya Ustadz Muhammad Idrus Ramli. Judulnya:<strong> “DEBAT TERBUKA SUNNI vs WAHABI”. Berikut ini adalah sedikit bocoran isi buku terbut….&nbsp;</strong></p>
<h2 style="text-align: center;">
	<strong>[DEBAT TERBUKA SUNNI vs WAHABI]</strong></h2>
<p style="text-align: center;">
	<em><strong>Muhammad Idrus Ramli</strong></em></p>
<p>
	<em><strong>Setelah “Buku Pintar Berdebat Dengan Wahabi” beredar,</strong></em> dan resensinya dimuat di situs NU-Online, sebagian kaum <strong>Wahabi merasa tersinggung dan menulis komentar di situs tersebut bahwa dari kalangan mereka ada yang bermaksud menulis bantahan.</strong> Penulis komentar di NU-Online tersebut, dengan nada mengejek juga menyatakan, bahwa dasar istighatsah yang digunakan oleh “Buku Pintar Berdebat Dengan Wahabi”, paling kuat adalah hadits Ibnu Umar RA yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam kitab al-Adab al-Mufrad. Padahal menurutnya hadits Ibnu Umar RA tersebut lemah dan tidak dapat dijadikan hujjah.</p>
<p>
	Setelah beberapa lama menunggu, ternyata bantahan yang dijanjikan oleh penulis komentar di NU-Online tersebut tidak kunjung datang, sampai Buku Pintar mengalami cetak ulang beberapa kali dan beredar luas di Tanah Air dalam waktu sekitar lima bulan. Baru tanggal 1 Juni 2011, <strong>saya menerima telephon dari KH. Muhyiddin Abdusshamad, Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Jember,</strong> bahwa beliau menerima kiriman majalah <strong>Qiblati – majalah Wahabi yang berkantor di Kota Malang Jawa Timur</strong>-, yang dikirim oleh <strong>Syaikh Mamduh Farhan al-Buhairi, ulama Wahabi dari Saudi Arabia</strong>, yang pernah tinggal di Jember beberapa tahun lalu. Setelah dibaca, ternyata majalah Qiblati edisi Rajab 1423 H/Juni 2011 M, memuat artikel bantahan <strong>Syaikh Mamduh terhadap Buku Pintar Berdebat Dengan Wahabi</strong> seputar kisah <strong>dialog as-Sayyid Alwiy al-Maliki dengan Syaikh Ibnu Sa’di, ulama terkemuka kaum Wahabi.</strong></p>
<p>
	<strong>Setelah membaca artikel bantahan Syaikh Mamduh tersebut, KH. Muhyiddin segera mengirimkan majalah itu kepada penulis</strong> dan meminta penulis untuk meluangkan waktu untuk menulis jawaban terhadap artikel tersebut. Tentu saja penulis tidak dapat menolak permintaan beliau, karena selama ini<strong> beliau memang sangat memperhatikan keselamatan akidah kaum Muslimin, khususnya warga nahdliyyin, dari rongrongan dan ancaman ajaran-ajaran yang menyimpang</strong> dari manhaj <strong>Ahlussunnah Wal-Jama’ah</strong>.</p>
<p>
	Oleh karena itu, <strong>penulis berupaya meluangkan waktu seraya memohon pertolongan kepada Allah SWT, untuk menulis jawaban ilmiah terhadap majalah Qiblati</strong> seputar kisah populer tentang perdebatan al-Imam as-Sayyid Alwiy al-Maliki dengan Syaikh Abdurrahman bin Nashir al-Sa’di, agar tidak ada keraguan di kalangan kaum Muslimin bahwa ajaran Wahabi memang benar-benar ajaran batil dan harus diwaspadai. Tentu saja, dalam buku ini, <strong>penulis hanya bermaksud menanggapi pernyataan Syaikh Mamduh yang memiliki bobot ilmiah – untuk tidak mengatakan syubhat ilmiah.</strong> Sedangkan pernyataan beliau yang jauh dari bobot ilmiah dan hanya bernilai retorika belaka, penulis memilih untuk tidak melayaninya.</p>
<p>
	<strong>Daftar Isi Buku “</strong><strong>DEBAT TERBUKA SUNNI vs WAHABI</strong>”</p>
<p>
	Sekapur Sirih<br />
	Kata Pengantar<br />
	Daftar Isi</p>
<p>
	<strong>BAGIAN PERTAMA</strong><br />
	Dialog Terbuka Di <em><strong>Masjidil Haram</strong></em></p>
<p>
	<strong>BAGIAN KEDUA</strong><br />
	Jawaban Terhadap <em><strong>Majalah Qiblati</strong></em><br />
	Sanad Periwayatan<br />
	Matan Riwayat<br />
	Kesalahan Redaksional<br />
	Tujuan Periwayatan<br />
	Hakikat <em><strong>Tabaruk dan Dalil-dalilnya</strong></em><br />
	Hadits-hadits Nabi r Tentang Tabaruk<br />
	Sahabat y dan Tabaruk<br />
	Ahli Hadits dan Tabaruk<br />
	Kealiman <strong>Syaikh Ibnu Sa’di</strong><br />
	Perbandingan Antara Syaikh Ibnu Sa’di dan as-Sayyid Alwiy al-Maliki</p>
<p>
	<strong>BAGIAN KETIGA</strong><br />
	Takhrij Hadits<em><strong> “Ya Muhammad”</strong></em><br />
	Derajat <strong><em>Hadits</em></strong><br />
	Bersama <em><strong>Kaum Wahabi</strong></em><br />
	Alasan<em><strong> Ikhtilath</strong></em><br />
	Alasan <em><strong>Tadlis</strong></em></p>
<p>
	<em>Daftar Referensi</em></p>
<p>
	Penerbit Bina ASWAJA Surabaya, 100 halaman, Rp. 12.000,-</p>
<p>
	<strong>INSYA ALLAH, BUKU&nbsp; “</strong><strong>DEBAT TERBUKA SUNNI vs WAHABI”&nbsp;</strong> SUDAH BEREDAR….</p>
<p>
	&nbsp;</p>
<p>
	sumber :http://ummatipress.com/</p>
]]></content:encoded>
      </item>
      <item>
         <title><![CDATA[PERTANYAAN BUAT KALANGAN SYI'AH YANG SAMPAI SAAT INI BELUM ADA YANG BISA MENJAWAB..!!]]></title>
         <link>http://aswaja.webnode.com/news/pertanyaan-buat-kalangan-syiah-yang-sampai-saat-ini-belum-ada-yang-bisa-menjawab-/</link>
         <description><![CDATA[
	Ali menikahkan putrinya dengan Umar bin Khatab, apakah Ali rela anaknya diserahkan kepada Umar yang kafir –menurut Syi’ah-???
	Syi’ah meyakini bahwa Ali Radhiyallahu ‘Anhu adalah imam yang ma’shum, lalu kami jumpai –Menurut pengakuan Syi’ah- bahwa ia menikahkan puterinya, Ummu Kultsum, saudara perempuan sekandung al-Hasan dan al-Husain, dengan Umar bin Khattab Radhiyallahu Anhu. (Pernikahan ini disebutkan oleh para ulama’ Syi’ah diantaranya: al-Kulaini dalam Furu’ al-Kafi (6/115); ath-Thusi...]]></description>
         <pubDate>Sun, 08 Jan 2012 10:01:00 +0100</pubDate>
         <guid isPermaLink="true">http://aswaja.webnode.com/news/pertanyaan-buat-kalangan-syiah-yang-sampai-saat-ini-belum-ada-yang-bisa-menjawab-/</guid>
         <category>News</category>
         <content:encoded><![CDATA[<p>
	Ali menikahkan putrinya dengan Umar bin Khatab, apakah Ali rela anaknya diserahkan kepada Umar yang kafir –menurut Syi’ah-???<br />
	Syi’ah meyakini bahwa Ali Radhiyallahu ‘Anhu adalah imam yang ma’shum, lalu kami jumpai –Menurut pengakuan Syi’ah- bahwa ia menikahkan puterinya, Ummu Kultsum, saudara perempuan sekandung al-Hasan dan al-Husain, dengan Umar bin Khattab Radhiyallahu Anhu. (Pernikahan ini disebutkan oleh para ulama’ Syi’ah diantaranya: al-Kulaini dalam Furu’ al-Kafi (6/115); ath-Thusi dalam Tahdzib al-Ahkam, Bab ‘Adad an-Nisa’ (8/148) dan (2/380), dan dalam kitabnya, al-Istibshar (3/356); al-Mazandarani dalam Manaqib Aal Abi Thalib (3/162); al-Amili dalam Masalik al-Afham (1/Kitab an-Nikah) dan Murthada ‘Alam al-Huda dalam asy-Syafi, hal. 166; Ibnu Abi al-Hadid dalam Syarh Nahj al-Balaghah (3/124); al-Ardabili dalam Hadiqah asy-Syi’ah, hal. 277; asy-Syustari dalam Majalis al-Mu’minin, hal. 76, 82; dan al-Majlisi dalam Bihar al-Anwar hal. 621) Ini berkonsekwensi salah satu dari dua hal bagi syi’ah yang paling manis dari keduanya terasa pahit, yaitu: Pertama, Ali tidak ma’shum, karena menikahkan puterinya dengan orang kafir (menurut keyakinan Syi’ah, yaitu Umar bin Khatab). Padahala, hal ini bertentangan dengan dasar-dasar madzhab, bahkan ini berkonsekwensi bahwa para imam selain Ali tidak ma’shum pula. Karena jika Imam sekelas Ali saja melakukan kesalahan dengan menikahkan puterinya dengan orang kafir yang menunjukkan ketidak ma’shuman beliau, bagaimana dengan imam-imam yang lain yang tidak mencapai selevel dengan Ali???<br />
	Kedua, Umar Radhiyallahu ‘Anhu adalah Muslim. Ali Radhiyallahu ‘Anhu ridha menjadikannya sebagai menantu. Yang manakah jawaban syi’ah terhadap dua kemungkinan tersebut????<br />
	Ali Menamakan Anak-anaknya dengan Nama Para Sahabat Setelah wafatnya Fatimah Radhiyallahu ‘Anha, Ali Radhiyallahu ‘Anhu menikah dengan sejumlah wanita yang melahirkan beberapa anak, diantaranya: Abbas bin Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Ali bin Abi Thalib, Ja’far bin Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Ali bin Abi Thalib. Ibu mereka adalah Umm al-Banin binti Hizam bin Darim. (Lihat: Kasyf al-Ghummah fi Ma’rifah al-A’immah, Ali al-Arbili (2/66)) Juga Ubaidullah bin Ali bin Abi Thalib, Abu Bakar bin Ali bin Abi Thalib. Ibu keduanya adalah Laila binti Mas’ud ad-Darimiyah. (Lihat: Kasyf al-Ghummah fi Ma’rifah al-A’immah, Ali al-Arbili (2/66)) Juga Yahya bin Ali bin Abi Thalib, Muhammad al-Ashgar bin Ali bin Abi Thalib, ‘Aun bin Ali bin Abi Thalib. Ibu mereka adalah Asma’ binti Umais. (Lihat: Kasyf al-Ghummah fi Ma’rifah al-A’immah, Ali al-Arbili (2/66)) Juga Ruqayyah binti Ali bin Abi Thalib, Umar bin ali bin abi Thalib-yang meninggal dunia pada usia 35 tahun. Ibu mereka adalah Ummu Habib binti Rabi’ah. (Lihat: Kasyf al-Ghummah fi Ma’rifah al-A’immah, Ali al-Arbili (2/66)) Juga Umm al-Hasan binti Ali bin abi Thalib, Ramlah al-Kubra binti Ali bin Abi Thalib. Ibu keduanya adalah Ummu Mas’ud bin Urwah bin Mas’ud ats-Tsaqafi. (Lihat: Kasyf al-Ghummah fi Ma’rifah al-A’immah, Ali al-Arbili (2/66)) Pertanyaan untuk kaum Syi’ah: Apakah mungkin seorang ayah menamakan buah hatinya dengan musuh bebuyutannya???<br />
	&nbsp;Lalu bagaimana jika sang ayah ini adalah Ali bin Abi Thalib????<br />
	&nbsp;Bagaimana mungkin Ali menamakan anak-anaknya dengan nama orang-orang yang kalian anggap bahwa mereka adalah musuh-musuhnya?!<br />
	Apakah seorang yang berakal menamakan anak-anak yang dicintainya dengan nama musuh-musuhnya???!!<br />
	Dimana Ali Pada Saat Fatimah Dizhalimi Abu Bakar<br />
	&nbsp;Syi’ah menyangka bahwa Fatimah Radhiyallahu ‘Anha, darah daging Nabi terpilih, telah dihinakan pada zaman Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu, dipatahkan tulang rusuknya, rumahnya hendak dibakar, dan janinnya yang Syi’ah namakan al-Muhsin digugurkan! Pertanyaan untuk kaum Syi’ah: Dimanakah Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu dari semua ini???<br />
	&nbsp;Mengapa ia tidak membela dan menuntut hak-hak istrinya, padahal Ali adalah seorang yang pemberani lagi kuat??!!<br />
	Dimana Ali Pada Saat Fatimah Dizhalimi Abu Bakar???<br />
	<br />
	Syi’ah menyangka bahwa Fatimah Radhiyallahu ‘Anha, darah daging Nabi terpilih, telah dihinakan pada zaman Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu, dipatahkan tulang rusuknya, rumahnya hendak dibakar, dan janinnya yang Syi’ah namakan al-Muhsin digugurkan! Pertanyaan untuk kaum Syi’ah: Dimanakah Ali bin abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu dari semua ini<br />
	<br />
	&nbsp;Mengapa ia tidak membela dan menuntut hak-hak istrinya, padahal Ali adalah seorang yang pemberani lagi kuat??!!<br />
	Masalah Kekhalifahan dan Kema’shuman serta Wasiat Ali dan Imam-Imam Syi’ah Ali Rela Dengan Kekhalifahan Abu Bakar, Umar dan Utsman Syi’ah menuduh, Abu Bakar dan Umar Radhiyallahu ‘Anhuma adalah Kafir. Padahal kami dapati bahwa ali, seorang imam yang ma’shum menurut Syi’ah, telah ridha dengan kekhalifahan keduanya, membaiat masing-masing dari keduanya, tidak memberontak terhadap keduanya. Ini berkonsekwensi bahwa Ali Radhiyallahu ‘Anhu tidak ma’shum, karena ia membaiat orang kafir, zhalim lagi membenci ahli bait, sebagai bentuk persetujuan kepada keduanya. Ini merusak kema’shuman dan menolong orang zhalim atas kezhalimannya. Ini tidak mungkin dilakukan oleh orang yang ma’shum sama sekali. Atau apa yang dilakukannya adalah kebenaran; karena keduanya adalah khalifah yang beriman, jujur dan adil. Dengan demikian, kaum syi’ah telah menyelisihi imam mereka, karena mengkafirkan, mencaci maki, melaknat, dan tidak ridha dengan kekhalifahan keduanya. Maka dari itu kita-pun bertanya, mengikuti jalan imam Ali yang ma’shum-menutut syi’ah-??<br />
	&nbsp;Atau kita mengikuti jalan kaum Syi’ah yang bermaksiat dengan menyelisihi Imam mereka<br />
	Apakah Ali Hilang Keberaniannya Setelah Kematian Rasulullah???<br />
	Jika Ali Radhiyallahu ‘Anhu mengetahui bahwa ia khalifah dari Allah yang telah dinash-kan, lalu nmengapa ia membaiat Abu Bakar, Umar dan Utsman???!!!<br />
	Jika kalian mengatakan bahwa ia (Ali) lemah, maka orang yang lemah itu tidak layak menjadi imam, karena keimaman itu hanya layak untuk orang yang mampu memikul tampuk kepemimpinan. Jika kalian mengatakan bahwa ia mampu tetapi tidak melakukannya, maka ini adalah pengkhianatan. Sedangkan pengkhiat itu tidak patut sebagai imam..!!!! dan tidak bias dipercaya untuk memimpin rakyat..!!! padahal, tidak mungkin Ali seperti itu. Lantas apa jawaban kalian jika kalian mempunyai jawaban nyang benar..???!!!!<br />
	Ketika Ali Menjadi Khalifah, Ali Tidak Menyelisih para Sahabat..!!! Ketika Ali menjadi Khalifah, kami tidak mendapatinya menyelisih Khulafaur Rasyidin sebelumnya. Ia tidak mengeluarkan kepada manusia Qur’an selain Qur’an yang ada pada Khulafaur Rasyidin yang sebelumnya yakni Abu bakar, Umar dan Utsman, dan bahkan Ali tidak mengingkari seorangpun dari mereka sedikitpun. Bahkan diriwayatkan secara mutawatir perkataannya diatas mimbar, “Sebaik-baik umat ini setelah Nabi mereka adalah Abu Bakar dan Umar.” Ia (Ali) tidak mensyariatkan kawin mut’ah, tidak mewajibkan haji Tamattu’ kepada manusia, tidak memaklumatkan “Hayya ‘Ala Khairi al-‘Amal” dalam adzan, dan tidak pula menghapus Ash-Shalatu Khair min an-Naum.” Seandainya Abu Bakar dan Umar adalah kafir –sebagaimana keyakinan anda (Syi’ah) yang juga telah merampas khalifah dari Ali- lalu mengapa ia tidak menerangkan hal itu, padahal tampuk kekuasaan berada ditangannya?! Justeru kita dapati sebaliknya, yaitu pujian dan sanjungan terhadap keduanya. Kalian leluasa atau kalian harus mengatakan, ia telah mengkhianati umat dan tidak menjelaskan hal itu kepada mereka. Tidak mungkin Ali demikian. Ali Menolak Menjadi Khalifah Penulis Kitab Nahj al-Balaghah -Suatu kitab pegangan di kalangan syi’ah- meriwayatkan, Ali Radhiyallahu ‘Anhu menolak menjadi khalifah dan mengatakan, “Tinggalkanlah aku, dan carilah orang selainku.” (Lihat: Nahj al-Balaghah, hal. 136. Lihat pula hal. 366-367, dan hal. 322). Ini jelas menunjukkan kebatilan Syi’ah. Sebab bagaimana mungkin ia menolak menjadi khalifah, padahal pengangkatannya sebagai imam dan khalifah adalah perintah fardhu dari Allah –menurut kalian (syi’ah)- yang harus dituntut dari Abu Bakar seperti yang kalian duga???!!!<br />
	&nbsp;Mengapa Ali tidak Berbicara Kepada Rasulullah untuk Dituliskan wasiat???<br />
	Mengapa Ali tidak berbicara , ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menjelang wafatnya meminta agar dituliskan untuk mereka suatu wasiat yang mereka tidak akan tersesat setelah itu selamanya, padahal ia seorang pemberani yang tidak takut kecuali kepada Allah?! Dia juga tahu, orang yang diam dari kebenaran adalah setan bisu!! Menurut Syi’ah, Ali Radhiyallahu ‘Anhu adalah penerima wasiat sebagai khalifah sepeninggal Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Namun beliau membaiat Abu Bakar ash-shiddiq Radhiyallahu ‘Anhu!!. Apakah keberanian Ali terhenti setelah wafat Nabi sehingga Ali tidak berani menuntut haknya??!!!<br />
	Peristiwa Ghadir Khum Jika syi’ah menyangka bahwa mereka yang hadir di Ghadir Khum itu ribuan sahabat yang semuanya telah mendengar wasiat tentang tampuk kekhalifahan untuk Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu begitu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam wafat, mengapa tidak satu-pun dari ribuan sahabat itu datang dan marah karena Ali bin Abi Thalib, bahkan tidak pula Ammar bin Yasar, al-Miqdad bin aswad atau Salman al-Farisi seraya mengatakan, “Wahai Abu Bakar, mengapa anda merampas kekhalifahan dari Ali, sedangkan engkau mengetahui apa yang disampaikan Rasulullah di Ghadir Khum?!”<br />
	&nbsp;Antara Sikap al-Hasan dan al-Husain Al-Hasan bin ali Radhiyallahu ‘Anhu turun dari tampuk kepemimpinan dan berdamai dengan Mu’awiyah Radhiyallahu ‘Anhu, ketika para pembela dan pasukan berkumpul disisinya yang memungkinkan untuk meneruskan peperangan. Sebaliknya, saudaranya, al-Husain memberontak terhadap Yazid bersama para sahabatnya dalam jumlah yang sedikit, ketika yang memungkinkannya untuk berdamai. Tentunya tidak luput bahwa salah satu dari keduanya berada diatas kebenaran dan yang lainnya diatas kebatilan; karena jika al-Hasan turun dari tampuk kekuasaan padahal mampu berperang adalah kebenaran, berarti pemberontakan al-Husain dengan tanpa kekuatan dan memungkinkannya untuk berdamai adalah kebatilan. Sebaliknya, jika pemberontakan al-Husain tanpa kekuatan adalah kebenaran, berarti turunnya al-Hasan dari tampuk kekuasaan padahal memiliki kekuatan adalah kebatilan. Inilah yang menempatkan Syi’ah dalam posisi yang membingungkan. Karena jika mereka mengatakan: keduanya diatas kebenaran, berarti mereka menggabungkan dua hal yang kontradiksi. Pendapat ini merobohkan prinsip-prinsip Syi’ah. Jika Syi’ah mengatakan bahwa perbuatan al-Hasan itu batil, konsekwensinya mereka harus mengatakan, keimamannya batil. Dengan membatalkan keimamannya akan membatalkan keimaman dan kema’shuman ayahnya; karena ia berwasiat kepadanya. Imam yang ma’shum itu tidak berwasiat kecuali kepada imam yang ma’shum. Jika Syi’ah mengatakan, perbuatan al-Husain itu batil, maka konsekwensinya mereka mengatakan, keimaman dan kema’shumannya itu batil. Dengan membatalkan keimaman dan kema’shumannya akan membatalkan keimaman dan kema’shuman semua anak keturunannya; karena ia adalah pokok keimaman mereka, dan silsilah imamah berasal dari jalurnya. Jika pokoknya batal, maka batal pula yang bercabang darinya. Sikap al-Hasan Kepada Mu’awiyah. Al-Hasan tidak Ma’shum atau Mu’awiyah Muslim..??<br />
	Syi’ah menyangka bahwa Mu’awiyah Radhiyallahu ‘Anhu adalah kafir. Kemudian kami dapati bahwa al-Hasan bin Ali turun dari tampuk kekhalifahan untuknya –padahal al-Hasan adalah imam yang ma’shum menurut syi’ah- maka konsekwensinya Syi’ah harus mengakui bahwa al-Hasan telah turun dari tampuk khalifah untuk diserahkan kepada orang kafir. Ini menyelisihi kema’shumannya, atau berarti Mu’awiyah itu muslim. Allah Menolong dan Merahmati 3 Khalifah (Abu Bakar, Umar dan Utsman Radhiyallahu ‘Anhum) dengan tersebarnya islam dimasa mereka Syi’ah menuduh bahwa khulafaur Rasyidin adalah kafir, lalu mengapa Allah menolong dan menaklukan negeri-negeri lewat tangan mereka. Islam jaya dan berwibawa ditangan mereka, dimana kaum muslimin tidak pernah melihat satu masa dimana Allah lebih memuliakan islam dibandingkan pada masa mereka. Apakah ini sejalan dengan sunnah Allah yang telah ditetapkan untuk menghinakan kaum kafir dan munafik??!!<br />
	Sebaliknya kami melihat pada masa “al-Ma’shum” (Ali) yang kepemimpinannya dijadikan Allah sebagai rahmat bagi manusia-seperti yang syi’ah katakana- umat berpecah belah dan saling memerangi, sehingga musuh memangsa islam dan pemeluknya. Adalah rahmat yang diraih umat ini dari kepemimpinan “al-Ma’shum”??<br />
	&nbsp;jika kalian berakal. Apakah Sahabat Murtad Dari Syi’ah Ke Ahlus Sunnah???<br />
	Syi’ah mengklaim, para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah murtad setelah kematian beliau dan berbalik kepada agama semula. Pertanyaan: apakah para sahabat Rasulullah –sebelum kematian beliau- adalah Syi’ah itsna Asyariyah, lalu mereka murtad menjadi Ahlus Sunnah?? Ataukah mereka dahulu –sebelum kematian Nabi- adalah ahlus Sunnah, kemudian berbalik menjadi Syi’ah itsna asyariyah??<br />
	Karena berbalik adalah berpindah dari satu keadaan kepada keadaan yang lain. Mengapa Tidak Ada Imam dari Keturunan al-Hasan???<br />
	Sebagaimana diketahui bahwa al-Hasan Radhiyallahu ‘anhu adalah putra Ali dan Ibunya adalah Fatimah Radhiyallahu ‘Anhuma. Ia termasuk Ahl al-Kisa’, menurut Syi’ah, dan termasuk imam yang ma’shum. Kedudukannya sama dengan kedudukan saudaranya al-Husain. Lantas mengapa imamah terputus dari anak-anak keturunannya dan berlanjut pada anak-anak keturunan al-Husain? Padahal ayah ibu keduanya sama, dan masing-masing dari keduanya adalah sayyid. Bahkan al-Hasan lebih unggul satu hal dari al-Husain, yaitu ia anak sulung dan lebih tua usianya, karena ia anak bungsu ayahnya. Sayangnya, kita tidak akan mendapatkan jawaban yang memuaskan dari kaum syi’ah terutama dari ulama-ulama’ mereka terlebih dari ucapan orang yang baru masuk syi’ah 20 tahun yang lalu..): Mengapa Ali Tidak Mengimami Orang-orang Shalat???<br />
	Mengapa Ali tidak mengimami orang-orang shalat sekalipun saat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sakit yang membawanya kepada kematiannya. Selagi ia adalah imam sepeninggalnya –sebagaimana yang kalian sangka?! Imamah Sughra (kepemimpinan kecil, dalam hal ini shalat) adalah bukti atas imamah kubra (Kepemimpinan besar, dalam hal ini khilafah)? Imam Mati Diracun atau Bunuh diri???<br />
	Al-Kulaini menyebutkan dalam kitab al-Kafi, “Bahwa para imam mengetahui kapan mereka akan mati, dan mereka tidak mati kecuali dengan pilihan dari mereka.” (Lihat dalam Ushul al-Kafi, karya al-Kulaini, (1/258); lihat juga al-Fushul al-Muhimmah, karya al-Hurr al-Amili, hal. 155) Al-Majlisi menyebutkan dalam kitabnya, Bihar al-anwar, sebuah hadits yang menyatakan, “Seorang imam tidak mati kecuali dalam keadaan terbunuh atau diracuni.” (Lihat Bihar al-anwar, karya al-Majlisi (43/364). Jika seorang imam mengetahui hal perkara yang ghaib sebagaimana disebutkan al-Kulaini dan al-Hurr al- Amili, maka ia akan mengetahui makanan dan minuman yang dihidangkan kepadanya. Jika makanan atau minuman itu beracun, maka ia mengetahui racun yang terdapat didalamnya dan ia menjauhinya. Jika tidak menjauhinya, berarti ia mati dalam keadaan bunuh diri; karena ia tahu bahwa makanan itu beracun. Dengan demikian, ia membunuh dirinya sendiri. Padahal Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengabarkan bahwa orang yang bunuh diri itu akan masuk neraka. Apakah Syi’ah ridha para imam mereka masuk neraka??!!<br />
	Apakah Rasulullah tahu tentang Mushaf Fatimah??<br />
	Al-Kulaini menyebutkan dalam kitabnya al-Kafi (1/239):”Sejumlah pengikut madzhab kami menuturkan kepada kami dari Ahmad bin Muhammad, dari Abdullah bin al-Hajjal, dari Ahmad bin Umar al-Halabi, dari Abu Bashir, ia mengatakan, “Aku menemui Abu Abdillah lalu aku katakana kepadanya, ‘Aku dijadikan sebagai tebusanmu. Sesungguhnya aku bertanya kepadamu tentang masalah disini yang seseorang akan mendengar ucapanku.’ Maka Abu Abdillah membuka tirai yang menghalangi antara dirinya dengan rumah lainnya. Lalu ia melihat padanya, lalu bertanya, ‘Wahai Abu Muhammad, bertanyalah tentang apa yang terbetik di hatimu.’ Aku katakana, ‘Aku dijadikan sebagai tebusanmu.’…..lalu ia diam sesaat, kemudian mengatakan, ‘ Sesungguhnya kita benar-benar memiliki Mushaf Fatimah. Tahukah mereka apa Mushaf Fatimah itu?’<br />
	aku bertanya, ‘Apakah Mushaf fatimah itu?’ Ia menjawab, ‘Yaitu Mushaf yang didalamnya seperti Qur’an kalian ini tiga kali lipatnya. Demi Allah, didalamnya tidak ada satu huruf pun dari Qur’an kalian.’ Aku katakana, ‘Demi Allah, ini adalah ilmu, sedangkan ia (al-Qur’an kalian) tidaklah demikian.” Apakah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengetahui Mushaf Fatimah?! Jika beliau tidak mengetahuinya, maka bagaimana ahli baitnya mengetahuinya tanpa sepengetahuan beliau, padahal beliau adalah utusan Allah?! Jika beliau mengetahuinya, mengapa beliau menyembunyikan dari umatnya? Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ “Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (Q.S. Al-Ma’idah: 67) Mertatap Pada Perayaan karbala Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأمْوَالِ وَالأنْفُسِ (155)وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ ( 156) الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ ( 157) أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun". Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Q.S. Al-Baqarah: 155-157) Allah Subhanahu wa Ta’ala Berfirman: وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ “Dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan” (Q.S. Al-Baqarah: 177) Disebutkan dalam Nahj al-Balaghah, “Setelah wafatnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Ali Radhiyallahu ‘Anhu mengatakan yang ditujukan pada beliau, ‘seandainya engkau tidak melarang berkeluh kesah dan memerintahkan bersabar, niscaya telah aku limpahkan atasmu air duka.” (Lihat Nahj al-Balaghah, hal. 576. Lihat pula Mustadrak al-Wasa’il, (2/445) Disebutkan juga bahwa Ali Radhiyallahu ‘Anhu mengatakan, “Barangsiapa memukulkan tangannya ke pipinya saat terjadi musibah, maka sungguh telah batal amalnya.” (Lihat Al-Kishal, karya ash-Shaduq, hal. 621; dan Wasa’il asy-Syi’ah, (3/270)) Al-Husain mengatakan kepada saudara perempuannya, Zainab, di Karbala, sebagaimana dinukil penulis Muntaha al-Amal (1/248): “Wahai Saudariku, aku memintamu bersumpah dengan nama Allah, engkau harus memelihara sumpah ini. Jika aku terbunuh, janganlah engkau merobek saku bajumu karena (meratapi) aku, jangan mencakar wajahmu dengan kuku-kukumu, dan jangan pula mengucapkan kata-kata celaka atau kutukan saat aku gugur sebagai syahid.” Abu Ja’far al-Qummi menukil bahwa Amirul Mukminin mengatakan sebagaimana yang diketahui oleh para sahabatnya, “Janganlah memakai pakaian hitam, karena itu adalah pakaian Fir’aun.” (Lihat Man la Yadhuruhu al-Faqih, karya Abu Ja’far Muhammad bin Babuwaih al-Qummi, (1/232). Ini juga diriwayatkan oleh al-Hurr al-Amili dalam Wasa’il asy-Syi’ah, (2/916) Dalam Tafsir ash-Shafi, disebutkan tafsir ayat: وَلا يَعْصِينَكَ فِي مَعْرُوفٍ “Dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik” (Q.S. Al-Mumtahanah: 12) Bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membaiat para wanita untuk tidak menghitamkan pakaian, tidak merobek baju, dan berseru dengan kata-kata celaka. Dalam Furu’ al-Kafi, karya al-Kulaini (5/527), Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berwasiat kepada Fatimah dengan sabdanya, “Jika aku mati, janganlah mencakar wajah, jangan mengurai rambutmu, jangan berseru dengan kata-kata celaka, dan jangan mengadakan ratapan atasku.” Berikut ini syaikh Syi’ah, Muhammad bin al-Husain bin Babuwaih al-Qummi, yang dijuluki dikalangan Syi’ah dengan ash-Shaduq berkata, “ Diantara kata-kata Rasulullah yang belum pernah diucapkan sebelumnya, “Ratapan termasuk perbuatan Jahiliyah.” (Diriwayatkan oleh ash-Shaduq dalam Man la Yadhuruhu al-Faqih (4/271-272). Juga diriwayatkan al-Hurr al-Amili dalam Wasa’il asy-Syi’ah (2/915); Yusuf al-Bahrani dalam al-Hada’iq an-Nadhirah (4/149); al-Hajj Husain al-Burujardi dalam Jami’ Ahadits asy-Syi’ah (3/488); dan diriwayatkan oleh Muhammad Baqir al-Majlisi dengan lafal: an-nihayah ‘amal al-jahiliyah, dalam Bihar al-Anwar (82/103). Demikian pula ulama Syi’ah: al-Majlisi, an-Nuri, dan al-Burujardi meriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda, “Ada dua suara terlaknat yang dibenci oleh Allah: menangis ketika terjadi musibah dan suara bersenandung, yaitu ratapan dan nyanyian.” (Diriwayatkan oleh al-Majlisi dalam bihar al-Anwar, (82/103); Mustadrak al-Wasa’il, (1/143-144); Jami Ahadits asy-Syi’ah, (3/488). Dan Man la Yadhuruhu al-Faqih, (2/271) Ada pertanyaan setelah memaparkan semua riwayat Syi’ah ini: Mengapa Syi’ah menyelisihi kebenaran yang disebutkan didalamnya?! Siapa yang kami percaya: Rasul dan Ahli Bait ataukan tokoh-tokoh dan kaum syi’ah??!! Jika Tathbir (melukai kepala hingga berdarah yang dilakukan Syi’ah pada Tanggal 10 Muharram (Asyura). Lihat Shirath an-Najah, karya at-Tabrizi (1/432), ratapan dan memukul dada itu BERPAHALA seperti yang kaum Syi’ah klaim (Lihat Irsyad as-Sa’il, hal. 184), mengapa Rasulullah, para Ahli baitnya, bahkan para imam-imam Syi’ah TIDAK MELAKUKANNYA???<br />
	Al-Khafi Dhaif lalu Kenapa Dipakai untuk Menafsirkan Al-Qur’an???<br />
	Syah Mengatakan bahwa sebagian besar riwayat dalam al-Kafi adalah dhaif?!<br />
	Dan kami tidak mempunyai yang shahih kecuali al-Qur’an. Lantas, bagaimana mungkin setelah itu mereka mengklaim –dengan kedustaan- bahwa tafsir Ilahi untuk al-Qur’an itu terdapat dalam kitab yang sebagian besar riwayatnya adalah dhaif berdasarkan pengakuan mereka?!<br />
	Beribadah Hanya Kepada Allah dan Penyimpangan Syi’ah dalam Memberikan Nama Ubudiyah (peribadatan) itu hanya milik Allah semata. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: بَلِ اللَّهَ فَاعْبُدْ “Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah” (Q.S. Az-Zumar: 66) Lantas mengapa Syi’ah memakai nama Abdul Husain, Abdul Ali, Abduz Zahra’, dan Abdul Imam? Mengapa pula para imam tidak menamakan anak-anak mereka dengan nama Abdul Ali dan Abduz zahra’? Apakah dibenarkan memakai Abdul Husain dengan “Pelayan al-Husain” setelah Syahidnya al-Husain? Apakah bias diterima akal menghidangkan makanan dan minuman untuknya serta menuangkan air wudhu untuknya di kuburnya, sehingga ia menjadi pelayan baginya?<br />
	Sujud Dengan Turbah (Tanah dari Karbala) Apakah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah sujud di atas tanah Husainiyah dimana kaum Syi’ah bersujud?<br />
	Juka mereka mengatakan “ya”, maka kami katakan bahwa ini adalah dusta, demi Rabb Pemilik Ka’bah. Jika mereka mengatakan tidak bersujud, kami katakana: “Jika memang demikian apakah kalian lebih lurus jalannya daripada Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam?”<br />
	Padahal sebagaimana diketahui, riwayat-riwayat mereka (Syi’ah) menyebutkan bahwa Jibril Alaihis Salam datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dengan membawa sewadah tanah karbala. Ghaibnya Imam Mahdi Syi’ah, Mengapa Sampai Saat ini Belum Keluar????<br />
	Syi’ah mengatakan, sebab ghaibnya imam mereka yang kedua belas di tempat persembunyiannnya adalah karena takut dizhalimi. Namun, mengapa keghaiban ini terus berlanjut meskipun kekhawatiran tersebut telah sirna dengan berdirinya negara-negara Syi’ah sepanjang sejarah, seperti al-‘Ubaidiyyun, al-Buwaihiyyun, ash-Shafawiyyun, dan terakhir negara Iran sekarang?<br />
	Mengapa ia tidak keluar sekarang, padahal Syi’ah mampu membela dan melindunginya di negeri mereka?<br />
	Jumlah mereka juta’an dan akan menebusnya dengan jiwa mereka diwaktu pagi dan petang. Saat Nabi Hijrah, Ali Dalam Posisi Kebinasaan??!! Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meminta ash-Shiddiq Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu untuk menemani dalam hijrahnya dan mengharapkan-nya tetap hidup. Sebaliknya, beliau menghadapkan Ali Radhiyallahu ‘Anhu pada kematian dan kebinasaan diatas tempat tidurnya. Seandainya Ali adalah imam yang diwasiatkan dan khalifah yang dipersiapkan, apakah mungkin ia dihadapkan pada kebinasaan, sementara Abu Bakar diharapkan tetap hidup, padahal seandainya is mati, maka imamah atau silsilah imamah tidak terganggu karena kematiannya. Disini ada pertanyaan, manakah yang lebih utama, ia tetap hidup tanpa tersentuh sedikit duripun ataukah dicampakkan di ranjang kematian dan kebinasaan?<br />
	Jika Syi’ah mengatakan, Ali mengetahui perkara ghaib, maka apa kelebihan untuknya ditempat tidur?<br />
	<br />
	Oleh: Abdullah Agil</p>
]]></content:encoded>
      </item>
      <item>
         <title><![CDATA[PENYELEWENGAN DAN MANIPULASI TERJEMAH HADIS OLEH SALAFI ]]></title>
         <link>http://aswaja.webnode.com/news/penyelewengan-dan-manipulasi-terjemah-hadis-oleh-salafi-/</link>
         <description><![CDATA[
	ADA YANG BILANG . . .
	---
	tidak perlu repot- repot mengadakan kenduri, yasinan dan perbuatan lainnya yang tidak ada tuntunannya dari Rosululloh shollallohu’alaihi wa sallam. Bahkan apabila dikaitkan dengan waktu malam Jum’at, maka ada larangan khusus dari Rosululloh shollalohu’alaihi wa sallam yakni seperti yang termaktub dalam sabdanya, “Dari Abu Hurairah, dari Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam: Janganlah kamu khususkan malam Jum’at untuk melakukan ibadah yang tidak dilakukan pada...]]></description>
         <pubDate>Wed, 28 Dec 2011 18:00:00 +0100</pubDate>
         <guid isPermaLink="true">http://aswaja.webnode.com/news/penyelewengan-dan-manipulasi-terjemah-hadis-oleh-salafi-/</guid>
         <category>News</category>
         <content:encoded><![CDATA[<div>
	ADA YANG BILANG . . .<br />
	---<br />
	tidak perlu repot- repot mengadakan kenduri, yasinan dan perbuatan lainnya yang tidak ada tuntunannya dari Rosululloh shollallohu’alaihi wa sallam. Bahkan apabila dikaitkan dengan waktu malam Jum’at, maka ada larangan khusus dari Rosululloh shollalohu’alaihi wa sallam yakni seperti yang termaktub dalam sabdanya, “Dari Abu Hurairah, dari Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam: Janganlah kamu khususkan malam Jum’at untuk melakukan ibadah yang tidak dilakukan pada malam-malam yang lain.” (HR. Muslim).<br />
	--<br />
	Terjemah hadist di atas adalah rujukan yang di gunakan untuk melarang amalan yasinan khusus malam jum'at,,<br />
	Bisa di lihat di beberapa situs berikut<br />
	--<br />
	<br />
	<a href="http://muslim.or.id/manhaj/yasinan-bidah-yang-dianggap-sunnah.html">http://muslim.or.id/manhaj/yasinan-bidah-yang-dianggap-sunnah.html</a></div>
<div style="clear: both;">
	<a href="http://4.bp.blogspot.com/-U3TJjeWCdOk/Tvpc-og3C9I/AAAAAAAAAJk/simxaHD_D6A/s1600/khusus+1.png"><img border="0" height="144" src="http://4.bp.blogspot.com/-U3TJjeWCdOk/Tvpc-og3C9I/AAAAAAAAAJk/simxaHD_D6A/s320/khusus+1.png" width="320" /></a></div>
<p>
	&nbsp;</p>
<div>
	<br />
	<br />
	Juga di sini<br />
	<a href="http://aqidahislam.wordpress.com/2007/01/07/yasinan-adakah-dalam-islam/">http://aqidahislam.wordpress.com/2007/01/07/yasinan-adakah-dalam-islam/</a><br />
	<br />
	Juga di sini<br />
	<br />
	<a href="http://mediasalafi.com/tag/yasinan/">http://mediasalafi.com/tag/yasinan/</a><br />
	<br />
	Juga disini<br />
	<br />
	<a href="http://abunamira.wordpress.com/2011/06/29/kupas-tuntas-tentang-yasinan-%D8%A8%D9%90-kupas-tuntas-tentang-yasinan-jawaban-bantahan-terhadap-pendapat-yang-menyesatkan-dari-orang-orang-tasawufsufijahmiyyahpengekor-habib-munzir-dari-majelis-r/">http://abunamira.wordpress.com/2011/06/29/kupas-tuntas-tentang-yasinan-بِ-kupas-tuntas-tentang-yasinan-jawaban-bantahan-terhadap-pendapat-yang-menyesatkan-dari-orang-orang-tasawufsufijahmiyyahpengekor-habib-munzir-dari-majelis-r/</a><br />
	<br />
	Juga disini<br />
	<a href="http://myquran.org/forum/index.php?topic=60108.0">http://myquran.org/forum/index.php?topic=60108.0</a><br />
	<br />
	--<br />
	<br />
	Setelah di lakukan penyelidikan dengan bukti hipotesa sementara,<br />
	<br />
	TERNYATA ADA PENYELEWENGAN MATAN TERJEMAH REDAKSI HADIST<br />
	<br />
	Ini Penting di tindak lanjuti..<br />
	<br />
	Karena tidak ada terjemah matan hadist seperti di atas,<br />
	<br />
	Yang ada adalah hadis dengan kandungan matan berikut :<br />
	<br />
	لا تخصوا ليلة الجمعة بقيام من بين الليالي و لا تخصوا يوم الجمعة بصيام من بين الايام إلا أن يكون في صوم يصومه أحدكم<br />
	<br />
	Hadist Riwayat muslim&nbsp;</div>
<div>
	<a href="http://3.bp.blogspot.com/-Bp891jCgMXM/TvpdAqqgzyI/AAAAAAAAAJs/2XzVbsaqA8c/s1600/khusus.png"><img border="0" height="205" src="http://3.bp.blogspot.com/-Bp891jCgMXM/TvpdAqqgzyI/AAAAAAAAAJs/2XzVbsaqA8c/s320/khusus.png" width="320" />&nbsp;</a></div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	&nbsp;</div>
<div>
	Artinya : "jangan kamu khususkan pada malam jum'at itu <strong>dengan shalat malam </strong>yang tidak (di kerjakan) pada malam lainnya, dan jangan kamu khususkan pada hari jum'at itu dengan puasa, yang tidak (di kerjakan) pada hari lain nya, kecuali jika bertepatan puasa yang telah di kerjakannya".<br />
	<br />
	JIKA KITA TELITI..<br />
	<br />
	Sepertinya, hadist itu ada KESAMAAN / KEMIRIPAN, padahal itu sangat BEDA JAUH kandungan matannya..<br />
	Entah situs di atas, itu memang sengaja menyelewengkan terjemah hadist, atau memang ada latar belakang lain...<br />
	<br />
	--<br />
	TERJEMAH HADIST PADA LINK SITUS DI ATAS Sangat berbahaya, jika di publikasikan, apalagi di situs situs internet yang bersangkutan, tidak menyertakan redaksi arabic dan nomer hadist, apalagi syarah nya,<br />
	Jika yang dimaksud terjemah hadist di atas adalah HR. Muslim No. 1144<br />
	<br />
	MAKA MERUPAKAN TERJEMAH ILEGAL, karena terjemahan indonesia itu kontradiksi dengan redaksi arabnya.<br />
	--<br />
	<br />
	SALAH SEDIKIT SAJA dalam menterjemahkan hadist, maka hukumnya akan BERUBAH..<br />
	<br />
	SEBAB ALASAN NYA : terjemah hadist pertama di atas yang ilegal, mengandung HUKUM MATAN bahwa semua amal ibadah, itu DI LARANG.<br />
	<br />
	Sehingga natijah / kesimpulan nya semua macam ibadah, itu HARAM jika di khususkan hari jum'at, karena merupakan DALIL A'AM.<br />
	<br />
	Sedangkan<br />
	<br />
	terjemah hadist kedua yang benar,<br />
	<br />
	KANDUNGAN HUKUM MATAN nya itu ternyata, yang dilarang HANYA sholat lail khusus malam jum'at, dan puasa khusus hari jum'at, dimana merupakan DALIL KHOS.<br />
	--<br />
	<br />
	Jadi SALAH TERJEMAH sedikit saja, sudah merubah KANDUNGAN MATAN yang seharusnya DALIL KHOS di selewengkan menjadi DALIL A'AM.<br />
	--<br />
	Ini merupakan MANIPULASI TERJEMAH HADIST DI DEPAN PUBLIK.<br />
	<br />
	--<br />
	Jadi perlu di ketahui, TIDAK ADA LARANGAN AMALAN IBADAH KHUSUS HARI / MALAM JUM'AT, KECUALI, SHOLAT LAIL, DAN PUASA.<br />
	<br />
	Sedangkan yasinan, barzanji, diba', maulid, simtudh duhror, khusus malam jum'at ITU DI PERBOLEHKAN..</div>
<p>
	BY : Pendekar Pedang Setiawan</p>
<p>
	<br />
	sumber http://inilah-salafi.blogspot.com</p>
]]></content:encoded>
      </item>
      <item>
         <title><![CDATA[Kisah Wahabi Tobat.. Kena Suwuk Majelis Rasulullah]]></title>
         <link>http://aswaja.webnode.com/news/kisah-wahabi-tobat-kena-suwuk-majelis-rasulullah/</link>
         <description><![CDATA[
	

	Assalamualaikum wr wb.

	Ini adalah kisah tetangga ana, dan ana sdh minta izin untuk di publikasikan afwan tapi namanya ana tidak sebut. Di bulan ramadhan 1431 H , tetangga ana yang anti maulid dan dll, ia habis pulang kuliah buru buru kerumah ana.

	Dan berkata: “fiz, itu dijalan banyak baleho2 MR buat apa sih tuh ??”

	ana jawab: “oh.. buat cara malam nuzulul qur’an dan ahlul badr di monas bos”

	tetangga ana:” ahh.. buang2 duit aja sih guru lho tuh, gak bener, bid’ah terus di buat...]]></description>
         <pubDate>Wed, 28 Dec 2011 17:55:00 +0100</pubDate>
         <guid isPermaLink="true">http://aswaja.webnode.com/news/kisah-wahabi-tobat-kena-suwuk-majelis-rasulullah/</guid>
         <category>News</category>
         <content:encoded><![CDATA[<p>
	<img alt="al-habib-munzir-almusawa" class="alignleft post_thumbnail wp-post-image" height="225" src="http://www.sarkub.com/wp-content/uploads/2011/10/al-habib-munzir-almusawa-300x225.jpg" title="al-habib-munzir-almusawa" width="300" /></p>
<p>
	Assalamualaikum wr wb.</p>
<p>
	Ini adalah kisah tetangga ana, dan ana sdh minta izin untuk di publikasikan afwan tapi namanya ana tidak sebut. Di bulan ramadhan 1431 H , tetangga ana yang anti maulid dan dll, ia habis pulang kuliah buru buru kerumah ana.</p>
<p>
	Dan berkata: “fiz, itu dijalan banyak baleho2 MR buat apa sih tuh ??”</p>
<p>
	ana jawab: “oh.. buat cara malam nuzulul qur’an dan ahlul badr di monas bos”</p>
<p>
	tetangga ana:” ahh.. buang2 duit aja sih guru lho tuh, gak bener, bid’ah terus di buat mendingan juga buat fakir miskin uangnya”</p>
<p>
	ana: “bos jgn menghina begitu, ente ikut dah besok ya bagimana acara disana ?? ente lihat dulu bagaimana suasana disana ?? terus gimana menurut ente?”</p>
<p>
	Tetangga ana pun berfikir dan berapa menit langsung jawab: “oke dah ana&nbsp; ikut tapi ente yg ongkosin ya??”</p>
<p>
	Ana: “iya ana yg bawa motor ana ongkosin bensin&nbsp; ^_^ ”</p>
<p>
	Setelah beberapa hari pas mau dekat acara, ia pun berkata ke ana: “ ana cuman mau liat aja ya dan gak mau apa yg ente dan guru ente lakuin entar ana dosa lagi bidah aja”, lalu ana jawab: “ iya bos terserah antum”, ana pun sambil tersenyum.</p>
<p>
	Kemudian malam hari setelah salat terawih ana dan tetangga ana pun berangkat ke acara di monas tersebut bersama sama teman2 yang lain, dalam perjalan dia berkata: ”waduh banyak juga fis yang ikut ni ada yg bawa anak, ada yg bawa mobil waduhh hebat gara2 cuman acara seperti ini banyak yang ikut HEBAT ANA SALUT”, ana pun di dalam hati seneng dan tersenyum mendengar perkataannya. Setelah sampai di tempat acara ia merasa bingung dan kaget melihat banyak sekali orang yang datang dan berkata”waduh ini pada mau demo ya fis?” Ana:”bukan bos ini mau ikuti acara tersebut dan memang seperti ini insya allah setiap tahun terus bertambah oranya” . dan iapun cuman melihat kanan kiri dan mengangguk2 kepalanya.</p>
<p>
	Saat acara berlangsung ia pun terdiam saja saat mahalul qiyam,ana lihat ia merasa seperti orang sedih, kenapa? walllohu allam. Lalu saat Habib Munzir Almusawa beri tausyiah pun ana lihat sepintas &nbsp;ia menyimak dengan rasa ingin tahunya. Lalu ana menunduk dan tersenyum. Setelah acara berakhir ia masih menangis atas zikir tadi, lalu ana bertanya kepada dia,</p>
<p>
	Ana:”kenapa antum ??”</p>
<p>
	Tetangga:” ana merasa sdh byk dosa fis, saat pembacaan salawat2 tadi ana merasa ketenangan jiwa yg tenang banget fis, terus saat Habib Munzir Almusawa tausyiah adem hati ana, lalu pas zikir ana merasakan tenang dan dosa2 pun sudah hilang rasanya fis bener YA ALLAH HATI INI ADEM BANGET FIS, POKOKNYA FIS ANA IKUT KALAU ANTUM NGAJI DAH HATI INI RASANYA TENANG BANGET ANA SUKA SALAWAT2NYA, BSK BSK AJA ANA LAGI FIS YA..”</p>
<p>
	Ana: “iya iya tenang aja ana ajak kok , makanya jgn menghina dulu bos ya , EH MALAH ANTUM KESENENGAN”</p>
<p>
	Tetangga:” iya iya ana mohon maaf dah fis selama ini dah banyak hina antum ikut ini itu ini itu, POKOKNYA ANA SEKARANG JADI DEPAN KALAU NGAJI BIAR KHUSUS APA YNG DISAMPAIKAN MA HABIB OKE FIS?”</p>
<p>
	Ana:”oke oke ^_^”</p>
<p>
	Dalam perjalanan pulang ia pun sering melatunkan qosidah yng tadi di bacakan di acara tersebut dan ia megang hp ana yg disitu ia tirukan bacaan qosidah tersebut, dalam hati ana pun seneng dan gembira melihat ia sekarang berubah mengikuti apa ajaran orang tuanya, karena ia berubah saat sdh kuliah , mudah Allah SWT terus menjaga hati dan imannya mengikuti ajaran Sayidina Muhammad SAW..amin ya robbi…</p>
<p>
	Sekian kisah ana alami semoga bermanfaat…amin</p>
<p>
	Wassalamu alaikum wr wb.</p>
<address>
	(oleh Muhammad Hafidz Maqmun pada 30 November 2010 jam 14:58)</address>
<br />
<address>
	sumber http://www.sarkub.com/</address>
]]></content:encoded>
      </item>
   </channel>
</rss>
